nusantaramerdeka.id — PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) resmi memulai realisasi pembelian kembali saham atau buyback senilai maksimal Rp5 triliun sejak Selasa, 28 April 2026.
Langkah strategis ini diambil sebagai bentuk komitmen bank swasta terbesar di Indonesia tersebut dalam menjaga stabilitas harga saham sekaligus membentengi pasar modal nasional dari volatilitas tinggi.
Presiden Direktur BCA Hendra Lembong menegaskan bahwa aksi korporasi ini bukan sekadar rutinitas keuangan, melainkan manifestasi nyata dari kepercayaan manajemen terhadap kekuatan ekonomi domestik.
“Pelaksanaan buyback merupakan sinyal optimisme kami di pasar modal Indonesia. Aksi korporasi ini merupakan wujud keyakinan kami atas fundamental bisnis perseroan,” ujar Hendra Lembong dalam keterangan resminya di Jakarta pada Rabu, 29 April 2026.
Aksi buyback ini diproyeksikan memberikan landasan harga atau floor price bagi saham BBCA yang memiliki bobot sangat signifikan terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
BCA menunjuk PT BCA Sekuritas sebagai pelaksana teknis pembelian di pasar reguler Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan batas maksimal 10 persen dari modal disetor perusahaan.
Langkah ini dinilai krusial untuk meredam kepanikan investor setelah IHSG sempat mengalami tekanan hebat hingga memicu penghentian perdagangan sementara atau trading halt pada awal tahun.
Keberanian manajemen menggelontorkan dana triliunan rupiah di tengah ketidakpastian global menunjukkan bahwa emiten blue chip ini siap menjadi jangkar bagi stabilitas ekonomi nasional.
Amunisi BCA untuk melakukan buyback ini sangat solid menyusul pencapaian laba bersih tahun buku 2025 yang menembus angka fantastis sebesar Rp57,5 triliun.
Meski agresif melakukan pembelian kembali, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) BCA tetap berada di level sangat kuat yakni 30,36 persen, jauh di atas ambang batas regulasi.
Ketangguhan finansial ini memastikan bahwa penggunaan kas perusahaan untuk buyback tidak akan mengganggu ekspansi kredit atau operasional bank dalam melayani masyarakat luas.
Faktanya, meski periode buyback pertama tahun lalu sempat menyisakan catatan kerugian yang belum terealisasi akibat fluktuasi harga, manajemen tetap konsisten melangkah demi menjaga marwah emiten di mata dunia. ***