IHSG Anjlok 5%, Ramalan Menkeu Purbaya Meleset

IHSG anjlok

nusantaramerdeka.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terhempas hingga 5,07 persen ke level 7.904 pada perdagangan Senin pagi (2/2/2026). Penurunan tajam ini berbanding terbalik dengan prediksi optimis Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang sebelumnya yakin bursa akan menghijau.

Ramalan Meleset, Bursa Justru ‘Kebakaran

Purbaya sebelumnya sangat yakin bursa tidak akan “kebakaran” meski ada pergantian pimpinan di Bursa Efek Indonesia (BEI). “Enggak lah, pasti naik lah,” tegasnya kepada wartawan di Wisma Danantara Indonesia, Sabtu lalu.

Kenyataan di lapangan justru menunjukkan tekanan jual yang sangat masif sejak pembukaan sesi pertama. Data RTI mencatat IHSG terseret jatuh hingga kehilangan ratusan poin hanya dalam hitungan jam.

Pukul 10.30 WIB, indeks sudah terperosok dalam ke level 7.919. Angka tersebut mencerminkan pelemahan 4,92 persen dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan sebelumnya.

Investor tampaknya tidak sejalan dengan optimisme yang disuarakan oleh pemerintah saat ini. Ribuan perintah jual masuk ke sistem perdagangan secara bersamaan dan menekan indeks ke zona merah.

Baca Juga :  BCA Eksekusi Buyback Rp5 Triliun Perkuat Fondasi Pasar Modal

Purbaya menilai sistem otomatis bursa mampu menjaga stabilitas meski Direktur Utama BEI berganti mendadak. Namun, mekanisme internal tersebut ternyata tidak mampu membendung arus sentimen negatif yang sedang memanas.

Ada sistem otomatis yang langsung bisa menggantikan Dirut yang ada, dari direksi yang ada dengan cepat,” tutur Purbaya. Ia mengklaim sistem internal bursa sudah cukup mapan untuk menghadapi segala situasi.

Tekanan Jual Masif di Seluruh Sektor

Ketegangan di pasar modal terlihat jelas dari jumlah emiten yang berguguran pada perdagangan pagi ini. Sebanyak 731 saham tercatat memerah hingga menjelang siang hari akibat aksi lepas aset secara berjamaah.

Hanya ada 68 saham yang mampu bertahan dan menguat tipis di tengah badai koreksi ini. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa IHSG anjlok bukan karena kinerja satu atau dua emiten besar saja.

Nilai transaksi pada sesi pertama bahkan telah menembus angka Rp16,29 triliun. Volume perdagangan mencapai 30,13 miliar lembar saham dengan frekuensi transaksi yang sangat padat.

Baca Juga :  Friderica Widyasari Dewi Resmi Pimpin OJK Hadapi Krisis Pasar Modal

Tingginya aktivitas transaksi menunjukkan adanya kepanikan atau panic selling di kalangan para pemodal. Mereka berusaha menyelamatkan nilai aset di tengah ketidakpastian yang membayangi lantai bursa.

Purbaya tetap pada pendiriannya bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam posisi kokoh. Target pertumbuhan ekonomi yang mendekati angka 6 persen tetap menjadi andalan narasi pemerintah.

Mereka akan lihat ke fundamental, kan fundamental ekonominya bagus, saya perbaiki terus,” jelas sang Menteri Keuangan. Ia berharap pelaku pasar segera kembali tenang dan melihat prospek jangka panjang.

Sentimen Jangka Pendek Bayangi Investor

Sayangnya, pasar modal seringkali bergerak lebih cepat berdasarkan persepsi risiko jangka pendek. Dinamika pergantian pimpinan bursa tetap memengaruhi psikologi investor meskipun sistem disebut berjalan otomatis.

Indeks terus merosot hingga menyentuh level 7.904,52 pada pantauan pukul 10.50 WIB. Penurunan 5,07 persen ini menjadi alarm keras bagi otoritas pasar dan pemerintah Indonesia.

Publik kini menunggu langkah nyata dari regulator untuk meredam volatilitas yang kian liar. Janji manis tentang pertumbuhan ekonomi belum cukup kuat untuk menenangkan kecemasan para pemilik modal.

Baca Juga :  BUMN Eksportir Tunggal Picu Harga Sawit Petani Runtuh 54 Persen

Koreksi tajam ini membuktikan bahwa realitas pasar seringkali jauh dari ekspektasi kebijakan di atas kertas. Pelaku pasar cenderung bereaksi lebih responsif terhadap rumor dan perubahan struktur organisasi.

Pemerintah perlu memberikan kepastian lebih lanjut guna menahan laju penurunan indeks yang semakin dalam. Jika tidak, kepercayaan investor terhadap stabilitas pasar keuangan Indonesia bisa terus tergerus.