nusantaramerdeka.id — Operasi intelijen digital berskala besar terungkap setelah spyware Morpheus ditemukan menyasar perangkat Android melalui skema pemutusan data seluler yang melibatkan kerja sama penyedia layanan telekomunikasi.
Organisasi hak digital Italia, Osservatorio Nessuno, membongkar keberadaan perangkat lunak pengintai versi 2025.3.0 ini pada 24 April 2026 sebagai alat spionase yang diduga kuat dikembangkan oleh perusahaan Italia bernama IPS.
Aktor di balik serangan ini menggunakan metode licin dengan meminta operator seluler memblokir akses internet target sebelum mengirimkan SMS jebakan berisi tautan aplikasi pemulihan data palsu.
Metode ini menunjukkan adanya kolaborasi berbahaya antara penegak hukum dan pihak swasta. Kedaulatan digital warga sipil kini berada di bawah ancaman nyata alat pengintai pemerintah.
Morpheus memiliki kemampuan teknis yang jauh lebih agresif dibandingkan aplikasi pengintai biasa karena mampu menonaktifkan sistem keamanan Google SafetyCore secara otomatis tanpa membutuhkan akses root.
Salah satu fitur paling mematikan adalah kemampuannya memalsukan antarmuka verifikasi biometrik WhatsApp untuk menambahkan perangkat penyerang ke akun korban secara diam-diam tanpa disadari pemiliknya.
Peneliti dari Osservatorio Nessuno, Davide dan Giulio, dalam laporannya menyatakan bahwa alat ini sangat invasif dalam merusak privasi pengguna ponsel Android yang menjadi target operasi tersebut.
“Morpheus sangat invasif: ia dapat merekam audio dan video, secara diam-diam menyambungkan perangkat WhatsApp, menghapus bukti, dan dengan sengaja melemahkan keamanan ponsel yang terinfeksi,” ujar Davide pada 24 April 2026.
Analisis forensik menemukan berbagai referensi budaya populer Italia di dalam kode sumber Morpheus, seperti penggunaan nama kelas “GomorraException” yang merujuk pada serial TV mafia terkenal.
Hal yang paling mengejutkan adalah penggunaan Google Firebase dalam operasional spyware ini yang secara tidak sengaja membocorkan data korelasi antara infeksi dan identitas target kepada pihak Google.
Fakta ini membuka peluang bagi raksasa teknologi tersebut untuk melacak siapa saja aktivis politik yang telah menjadi korban spionase melalui infrastruktur server mereka sendiri.
Osservatorio Nessuno menekankan pentingnya akuntabilitas global bagi vendor pengawas. Perusahaan yang memproduksi teknologi ini tidak boleh dibiarkan beroperasi di area abu-abu hukum tanpa pengawasan ketat.
“Perusahaan yang mengembangkan, menjual, dan mengoperasikannya, serta entitas yang memesan penggunaannya, harus bertanggung jawab,” tulis Osservatorio Nessuno dalam laporan resminya tertanggal 24 April 2026.
Keberadaan Morpheus menjadi alarm keras bagi masyarakat sipil untuk tidak sembarang menginstal aplikasi di luar toko resmi, terutama saat mengalami gangguan sinyal yang mencurigakan. ***