nusantaramerdeka.id—Jombang, Thoriqoh Shiddiqiyyah di Ploso, Jombang, Jawa Timur, menegaskan bahwa nasionalisme bukan sekadar retorika seremonial, melainkan aksi konkret membangun bangsa melalui program Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah (RSLHS). Gerakan ini memadukan napas tasawuf dengan semangat patriotisme yang tegak lurus pada kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Bagi jamaah Shiddiqiyyah, mencintai tanah air adalah mandat iman yang wajib diwujudkan dalam kerja nyata di lapangan. Mereka memandang kemerdekaan Indonesia sebagai nikmat ketuhanan yang harus dijaga dengan peluh dan gotong royong, bukan sekadar kata-kata manis di balik mimbar.
Program RSLHS menjadi bukti bahwa zikir mereka menjelma menjadi tembok dan atap bagi warga miskin.
Manifestasi Syukur dan Perlawanan Terhadap Kemiskinan
Program pembangunan rumah ini dijalankan secara mandiri oleh jamaah tanpa menyentuh bantuan pemerintah sedikitpun. Prinsip kemandirian ini menjadi harga mati dalam menunjukkan bakti kepada negeri. Setiap paku yang ditancapkan oleh jamaah diyakini sebagai bagian dari ibadah syukur atas berkat rahmat Allah yang telah memerdekakan bangsa ini dari belenggu penjajahan.
Komitmen Mursyid Terhadap Kedaulatan Bangsa
Pimpinan Thoriqoh Shiddiqiyyah, Syekh Muchammad Muchtarullohil Mujtaba Mu’thi, dalam ceramahnya pada 17 Agustus 2025 di Jombang, menegaskan posisi tegas jamaahnya.
“Ibadah sosial adalah wujud syukur atas kemerdekaan,” tegasnya. Beliau berulang kali mengingatkan bahwa membangun rumah bagi fakir miskin adalah cara membayar utang budi yang paling jujur kepada tanah air tempat mereka bersujud.
Sikap patriotik ini juga terlihat dari penghormatan tinggi terhadap simbol negara. Bagi mereka, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan menghormati Merah Putih adalah zikir kebangsaan. Gerakan ini mendobrak sekat antara agama dan negara dengan cara yang sangat berani dan progresif.
Di tangan mereka, spiritualitas menjadi bahan bakar pembangunan fisik yang kokoh merata di berbagai daerah.
Iman yang tidak berdampak pada kesejahteraan rakyat dianggap belum sempurna. Oleh karena itu, Shiddiqiyyah mendidik muridnya untuk tidak menuntut hak dari negara, melainkan bertanya apa yang bisa mereka berikan. Transformasi dari sajadah ke lokasi konstruksi ini membuktikan bahwa Islam dan nasionalisme adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan dalam menjaga kedaulatan bangsa.***