nusantaramerdeka.id — Nilai tukar rupiah ambruk hingga menembus level psikologis baru Rp 17.519 per dolar AS pada perdagangan intraday Selasa, 12 Mei 2026, yang menjadi posisi terlemah sepanjang sejarah republik ini berdiri.
Mata uang Garuda melemah 0,54 persen dalam sehari akibat eskalasi konflik Amerika Serikat-Iran di Selat Hormuz dan lonjakan harga minyak mentah dunia yang menyentuh angka USD 104,51 per barel.
Kedaulatan moneter Indonesia kini diuji saat asumsi kurs APBN 2026 sebesar Rp 16.500 telah meleset lebih dari Rp 1.000, memaksa pemerintah mengeluarkan biaya utang luar negeri jauh lebih besar.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa otoritas moneter tidak tinggal diam dan telah melakukan intervensi berskala besar di pasar global untuk menahan kejatuhan rupiah yang lebih dalam.
Bank Indonesia secara agresif masuk ke pasar offshore mulai dari Hong Kong, Singapura, London, hingga New York demi memukul balik tekanan spekulasi terhadap mata uang domestik.
“Hong Kong kami intervensi, Singapura kami intervensi, London kami intervensi, New York kami intervensi. Itu namanya bukan business as usual, itu all out,” tegas Perry Warjiyo pada Kamis, 7 Mei 2026.
Langkah ini didukung oleh cadangan devisa nasional yang masih kokoh di angka US$ 148,2 miliar, meskipun tekanan geopolitik terus menguras energi stabilitas ekonomi nasional.
Rakyat mulai dibayangi kenaikan harga kebutuhan pokok akibat fenomena “imported inflation” karena membengkaknya biaya impor bahan baku industri seperti obat-obatan, pakan ternak, hingga komponen elektronik.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, berjanji akan mengerahkan instrumen Bond Stabilization Fund (BSF) mulai Rabu besok untuk menjaga agar imbal hasil obligasi negara tidak melonjak liar.
“APBN 2026 tetap berada dalam posisi aman. Pemerintah memiliki dana yang siap digunakan guna mencegah imbal hasil obligasi tidak melonjak terlalu tinggi,” ujar Purbaya Yudhi Sadewa pada Selasa, 12 Mei 2026.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperingatkan bahwa selama harapan damai di Timur Tengah masih meredup, posisi rupiah tetap berada dalam zona bahaya terhadap dominasi dolar AS.
Meskipun pertumbuhan ekonomi kuartal pertama mencapai 5,61 persen, fundamental domestik seolah tak berdaya menghadapi sentimen global yang lebih dominan mengendalikan arus modal keluar.
Pemerintah kini dituntut bergerak lebih taktis untuk melindungi daya beli masyarakat bawah yang paling rentan terkena dampak kenaikan harga barang konsumsi dalam beberapa bulan ke depan. ***