Jombang, NusantaraMerdeka.id – Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Layak Huni (RSKILHS) mampu membangun satu unit rumah tipe 36 dalam waktu sekitar dua hingga tiga minggu, dari peletakan batu pertama hingga serah kunci. Kecepatan tersebut didukung penggunaan mesin pengaduk beton self-loading yang memungkinkan proses produksi beton dilakukan langsung di lokasi pembangunan.
Program sosial yang digagas keluarga besar Thoriqoh Shiddiqiyyah melalui Dhilal Berkat Rochmat Alloh (DHIBRA) dan Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah Front Ketuhanan Yang Maha Esa (OPSHID FKYME) menggunakan teknologi konstruksi tersebut untuk mempercepat pembangunan rumah bagi warga yang tinggal di hunian tidak layak.
Mesin Beton Mempercepat Pembangunan Rumah Syukur

Mesin self-loading concrete mixer menjadi salah satu kunci pengerjaan rumah dalam waktu singkat. Alat ini dapat memuat pasir dan semen secara mandiri, menimbang bahan, mengaduknya, kemudian menuangkan beton langsung di titik pembangunan.
Kapasitas mesin tersebut disebut mencapai 14 hingga 24 meter kubik beton per jam. Kemampuan memproduksi beton langsung di lokasi membuat relawan tidak harus bergantung pada batching plant atau truk mixer yang membutuhkan akses distribusi menuju lokasi pembangunan.
Model tersebut menjadi penting ketika rumah dibangun di lahan sempit, daerah dengan jalan yang sulit dilalui kendaraan besar, atau wilayah yang jauh dari pusat kota. Produksi beton dilakukan langsung di lokasi sehingga proses pengerjaan dapat menyesuaikan kondisi lapangan.
Beton Langsung Diproduksi di Lokasi
Dalam pola kerja yang diterapkan relawan, mesin digunakan untuk kebutuhan pengecoran fondasi, sloof, dan kolom. Pagi hari dimanfaatkan untuk pengecoran, sedangkan pengerjaan pada siang hari dilanjutkan dengan pemasangan bata dan atap.
Pola kerja tersebut memungkinkan tahapan konstruksi berjalan secara berurutan meski dikerjakan tenaga sukarela. Setelah satu rumah selesai, mesin dapat dipindahkan ke lokasi berikutnya untuk mendukung pembangunan unit lain.
Program ini tidak menggunakan pola proyek komersial yang mengejar keuntungan. Teknologi konstruksi justru dimanfaatkan untuk membuat kegiatan sosial yang mengandalkan tenaga sukarela tetap dapat berjalan dengan standar pengerjaan yang terukur.
126 Rumah Dibangun di 88 Kabupaten dan Kota
Tahun ini, Rumah Syukur menargetkan pembangunan 126 unit rumah yang tersebar di 88 kabupaten dan kota di Indonesia. Peletakan batu pertama dimulai sejak 22 Juni 2026 dan pembangunan ditargetkan rampung menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 2026.
Di Lampung, misalnya, DHIBRA Shiddiqiyyah membangun 12 unit rumah bagi warga setempat. Penerima manfaat umumnya merupakan masyarakat yang tinggal di rumah yang dinilai tidak layak huni.
Salah satu penerima manfaat adalah Ibu Putiah, 71 tahun, warga Desa Madi, Kecamatan Kudu. Lansia tersebut selama ini mengasuh cucu-cucunya di rumah dengan kondisi yang jauh dari layak.

Pembangunan Rumah Mengandalkan Sedekah Anggota
Di wilayah Kudu, Jombang, anggaran pembangunan satu unit rumah disebut sekitar Rp120 juta. Dana tersebut tidak berasal dari pembiayaan komersial, melainkan dihimpun melalui sedekah pribadi anggota.
Penanggung Jawab Rumah Syukur wilayah Kudu, Jombang, Bagus Harianto mengatakan sumbangan diberikan dalam berbagai bentuk, termasuk uang dan material bangunan.
“Penggalian dana berasal dari shodaqoh pribadi anggota, ada yang berupa material dan kebutuhan lainnya,” kata Bagus Harianto.
Skema swadaya tersebut membuat efisiensi pengerjaan menjadi penting. Dengan mesin yang dapat memproduksi beton sekaligus berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, relawan dapat menyesuaikan proses pembangunan dengan kondisi setiap daerah.
Penggunaan teknologi tersebut menjadi bagian dari upaya Rumah Syukur mempercepat pembangunan hunian bagi warga yang membutuhkan. Program tetap dijalankan sebagai kegiatan sosial dengan pendanaan dari sedekah anggota dan pengerjaan yang melibatkan relawan di berbagai daerah.