nusantaramerdeka.id — Pemerintah memprediksi puncak arus balik Lebaran 2026 pertama akan terjadi pada Selasa, 24 Maret 2026, dengan volume kendaraan mencapai 285.000 unit. Lonjakan ini dipastikan melampaui rekor puncak arus mudik yang tercatat sebanyak 270.315 kendaraan pada 18 Maret lalu.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa kesiapan infrastruktur akan diuji secara maksimal pada momen tersebut. “Berdasarkan data perhitungan yang kami dapatkan di JMTC, puncak arus balik diprediksi akan jatuh pada hari Selasa, 24 Maret 2026, dengan perkiraan volume lebih dari 285 ribu kendaraan,” ujar Dudy saat meninjau JMTC pada 22 Maret 2026.
Skema One Way dan Diskon Tol Jadi Senjata Utama
Kakorlantas Polri Irjen Pol Agus Suryonugroho menyatakan pihaknya telah menyiapkan rekayasa lalu lintas skala nasional. Skema one way akan diberlakukan mulai KM 414 Gerbang Tol Kalikangkung hingga KM 70 Tol Cikampek untuk menjamin kelancaran aliran kendaraan menuju Jakarta.
Agus mengimbau masyarakat agar tidak memaksakan pulang pada tanggal puncak demi menghindari kemacetan total. “Kami prediksi tiga hari tersebut akan menjadi puncak arus balik Lebaran 2026. Kami imbau masyarakat menghindari waktu puncak agar perjalanan tetap aman,” tegas Agus pada 23 Maret 2026.
Strategi WFA dan Pengurangan Beban Jalan
Sebagai langkah antisipasi tambahan, pemerintah meresmikan kebijakan Work From Anywhere (WFA) pada periode 25-27 Maret 2026. Langkah ini bertujuan mendistribusikan konsentrasi kendaraan agar tidak tertumpuk pada satu hari yang sama, mengingat total pemudik tahun ini mencapai 143,91 juta orang.
Direktur Utama Jasa Marga Rivan A. Purwantono turut memberikan stimulus berupa potongan tarif tol sebesar 30 persen bagi pengguna jalan. “Kami meminta masyarakat memanfaatkan diskon tarif tol sebesar 30% pada periode arus balik selama dua hari yakni pada 26-27 Maret 2026,” kata Rivan dalam keterangan resminya.
Pemerintah optimistis dengan integrasi data melalui Nusantara Hub, risiko kecelakaan dan kemacetan parah dapat ditekan secara signifikan. Sinergi antara kebijakan fiskal berupa diskon tol dan fleksibilitas kerja diharapkan menjadi solusi efektif mengurai kepadatan di jalur Trans Jawa. ***