nusantaramerdeka.id — Wakil Ketua MUI Desa Cayur sekaligus tokoh ulama sepuh, Kiai Abdul Yani (70), dilaporkan pingsan setelah dikeroyok sekelompok orang yang diduga oknum anggota organisasi kemasyarakatan (ormas) di Kampung Surian, Cikatomas, Tasikmalaya, Rabu (15/04/2026).
Insiden tragis ini terjadi saat korban hendak menuju lahan perkebunan miliknya usai melaksanakan salat dzuhur. Selain mengalami luka di bagian wajah, kiai yang merupakan alumni Pondok Pesantren Miftahul Huda Manonjaya ini terpaksa dilarikan ke Puskesmas Cikatomas untuk mendapatkan perawatan medis intensif.
Kemarahan publik pun memuncak hingga ratusan massa menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Polsek Cikatomas pada Kamis (16/04/2026). Mereka menuntut penegakan hukum tanpa pandang bulu terhadap para pelaku yang telah bertindak biadab terhadap ulama lansia.
“Tindakan biadab ketika seorang kiai sepuh dianiaya sampai pingsan. Kami mendesak Polres Kabupaten Tasikmalaya segera menangkap pelakunya, jangan sampai lambat,” tegas Ketua DPW FPI Kota Tasikmalaya, KH Muhammad Yan-yan Al Bayani, Kamis (16/04/2026).
Kepolisian kini telah melimpahkan kasus ini ke Sat Reskrim Polres Tasikmalaya untuk penyelidikan lebih lanjut. Publik menunggu keberanian aparat untuk membongkar dalang di balik aksi premanisme yang mencoreng wajah “Kota Santri” tersebut.
Konflik Lahan dan Intimidasi Ormas Jadi Pemicu
Berdasarkan hasil investigasi awal, pengeroyokan ini diduga kuat dipicu oleh konflik lahan garapan dengan sistem tumpang sari. Korban disinyalir sempat mendapatkan ancaman fisik sebelum kejadian jika menolak bergabung dengan organisasi tertentu yang dipimpin salah satu pelaku berinisial S.
Ancaman tersebut nyata terjadi saat sekelompok pelaku menghadang langkah sang kiai di tengah jalan menuju kebun. Aksi intimidasi ini telah meresahkan warga Desa Cayur karena melibatkan oknum LSM yang mencoba menguasai lahan tani milik warga setempat secara paksa.
“Korban telah mendapat penanganan medis dan kondisinya stabil. Kasus saat ini sudah dilimpahkan ke Sat Reskrim Polres Tasikmalaya,” ujar Kapolsek Cikatomas, AKP Sukiran, saat mengonfirmasi kejadian pada Rabu (15/04/2026).
Santri Siaga Jika Pelaku Tidak Segera Ditangkap
Lambatnya penangkapan pelaku memicu ultimatum keras dari berbagai elemen santri dan tokoh ulama di Tasikmalaya. Resimen Santri (Ressant) mengutuk keras aksi premanisme ini dan meminta umat Islam tetap menahan diri sembari memantau keseriusan pihak kepolisian.
Jika dalam waktu dekat para pelaku belum berhasil diamankan, massa mengancam akan melakukan pencarian mandiri. Hal ini menunjukkan betapa krusialnya respons cepat kepolisian untuk mencegah terjadinya konflik horizontal atau aksi main hakim sendiri di masyarakat.
Dukungan terus mengalir bagi Kiai Abdul Yani, termasuk kunjungan dari pimpinan pusat Pondok Pesantren Miftahul Huda. Doa bersama mulai digelar di berbagai titik sebagai bentuk solidaritas atas penganiayaan yang menimpa pejuang agama di pelosok Tasikmalaya.
Kasus ini menjadi ujian integritas bagi Polres Tasikmalaya dalam menghadapi tekanan oknum ormas yang merasa kebal hukum. Keadilan bagi sang kiai sepuh harus ditegakkan demi menjaga marwah ulama dan keamanan para petani di wilayah Cikatomas. ***