nusantaramerdeka.id — Militer Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi tempur besar-besaran terhadap Iran pada Jumat (27/2/2026), memicu ledakan hebat di pusat kota Teheran dan beberapa wilayah strategis lainnya.
Serangan gabungan yang dikonfirmasi langsung oleh Presiden AS Donald Trump ini menyasar Jalan Universitas dan kawasan Jomhouri di Teheran melalui jalur udara dan laut. Asap hitam terlihat mengepul dari ibu kota Iran tersebut setelah rudal menghantam titik-titik vital, termasuk lokasi yang berdekatan dengan kantor Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
“Belum lama ini, militer AS memulai operasi tempur besar-besaran di Iran. Tujuan kami adalah membela rakyat Amerika dengan melenyapkan ancaman dari rezim Iran,” tegas Trump dalam pernyataan resminya, Jumat (27/2/2026).
Timur Tengah Membara: Pembalasan Instan
Iran tidak tinggal diam. Teheran langsung melancarkan serangan balasan yang menghantam wilayah Israel utara dan sejumlah pangkalan AS di negara-negara Teluk Arab. Ledakan dilaporkan terjadi di Bahrain yang menyasar markas Armada ke-5 Angkatan Laut AS, serta di ibu kota Uni Emirat Arab, Abu Dhabi, dan Kuwait.
Seorang pejabat senior Iran kepada Al Jazeera menyatakan bahwa seluruh aset Amerika dan Israel di Timur Tengah kini menjadi target sah tanpa ada lagi batasan atau “garis merah”. Televisi pemerintah Iran melaporkan militer mereka sedang menyiapkan serangan balasan yang lebih menghancurkan sebagai bentuk balas dendam atas agresi ini.
Negosiasi Gagal, Perang Terbuka
Mehran Kamrava dari Pusat Penelitian dan Studi Kebijakan Arab menilai serangan ini dirancang sengit untuk menggagalkan negosiasi yang sedang berjalan. Israel dan AS disebut telah merencanakan operasi ini selama berbulan-bulan guna memberikan tekanan maksimal terhadap program nuklir Iran.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuji kepemimpinan Trump dan menyebut aksi bersama ini bertujuan menghilangkan ancaman eksistensial bagi Israel. Saat berita ini diturunkan, wilayah udara di Qatar, Kuwait, UEA, dan Irak telah ditutup total untuk penerbangan sipil guna mengantisipasi eskalasi perang yang lebih luas. ***