nusantaramerdeka.id – Lonjakan jumlah korban banjir dan longsor di Sumatera mencapai 441 jiwa per 1 Desember 2025. BNPB menegaskan data ini masih berubah seiring tim berhasil menembus desa-desa yang sebelumnya terisolasi oleh kerusakan infrastruktur.
Kepala BNPB Suharyanto, pada Minggu (30/11/2025), menyebut verifikasi lapangan terhambat jembatan putus dan akses yang terbelah. Ia menegaskan “angka bisa berubah karena banyak wilayah baru dapat dijangkau,” dalam laporan resmi BNPB, Senin (1/12/2025).
Sumatera Utara tercatat paling terpukul. Wilayah ini mencatat 217 korban meninggal dan 209 masih hilang, sebagian besar dari desa dataran tinggi. Banyak warga ditemukan setelah tim gabungan menembus lokasi yang semula tertutup material longsor.
Di Aceh, korban meninggal mencapai 96 orang. Otoritas setempat menegaskan data resmi ini sekaligus meluruskan kabar liar yang sempat menyebut ratusan korban di satu provinsi.
Di Sumatera Barat, jumlah korban mencapai 129 jiwa, termasuk 74 warga Kabupaten Agam. Puluhan orang masih hilang dan dicari di sepanjang jalur banjir bandang.
BNPB mengakui kondisi medan menjadi tantangan utama. Banyak titik hanya bisa dicapai dengan perahu atau helikopter. Situasi ini mempercepat perubahan data dalam 24–48 jam terakhir.
Pemerintah pusat melalui Menko PMK Pratikno memerintahkan mobilisasi penuh untuk pencarian korban dan distribusi logistik. Prioritas utama adalah membuka jalan, menjamin makanan, air bersih, dan obat-obatan bagi warga terisolasi.
Lembaga kemanusiaan dan swasta ikut bergerak. BSI Maslahat menyalurkan makanan siap saji, air, alas tidur, dan obat-obatan pada Senin (1/12).
Dampak sosial kini terlihat besar. Ratusan keluarga kehilangan anggota dan ribuan rumah hilang. Pemulihan jangka panjang dibutuhkan, termasuk layanan psikososial.
BNPB menilai bencana ini menjadi peringatan keras bagi kesiapsiagaan nasional. Kerentanan wilayah terhadap cuaca ekstrem dan lemahnya mitigasi di daerah rawan longsor dituntut dibenahi.
Perubahan data yang cepat menegaskan kebutuhan sistem pendataan bencana yang lebih presisi dan terintegrasi. (*)