Nusantara Merdeka — Ledakan di Aeon Mall Kumamoto, Prefektur Kumamoto, Jepang, sekitar 80 menit setelah gempa bumi pada 28 Juli 2026, kemungkinan besar berkaitan dengan kebocoran gas LPG atau elpiji yang digunakan di dalam pusat perbelanjaan tersebut.
Dugaan itu disampaikan Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang pada Kamis (5/8/2026). Meski demikian, penyebab pasti kebocoran masih dalam penyelidikan.
Bagaimana LPG Bisa Memicu Ledakan di Mal?
Ledakan terjadi sekitar pukul 17.50 waktu setempat, setelah gempa mengguncang wilayah Kumamoto. Saat pemeriksaan di lokasi, polisi dan petugas pemadam kebakaran juga menerima laporan mengenai adanya bau gas di dalam gedung.
Temuan tersebut menjadi penting karena Aeon menggunakan LPG untuk sejumlah kebutuhan operasional. Gas digunakan antara lain untuk memasak di restoran dan pujasera, serta untuk kebutuhan pemanasan air.
LPG di pusat perbelanjaan itu disimpan dalam tangki berkapasitas 9.367 kilogram. Dari tangki tersebut, gas dialirkan menuju gedung melalui pipa yang berada di bawah tanah sebelum diteruskan melalui jaringan pipa yang terpasang pada bagian lantai dan dinding.
Dengan sistem seperti itu, kebocoran tidak harus terjadi langsung pada tangki untuk menimbulkan bahaya. Gas yang masih berada di dalam jaringan pipa juga menjadi bagian yang diperiksa dalam penyelidikan setelah ledakan.
Gas Diduga Tertinggal di Pipa Setelah Gempa
Menurut sejumlah sumber, jumlah LPG yang tersisa di tangki pusat perbelanjaan tersebut hampir sama dengan kondisi biasanya. Fakta ini membuat dugaan sementara mengarah bukan pada kebocoran besar dari tangki penyimpanan.
Gas yang masih berada di dalam pipa diduga dapat bocor dan kemudian terkumpul di dalam bangunan. Jika dugaan tersebut terbukti, ledakan bukan terjadi karena seluruh isi tangki keluar sekaligus, melainkan akibat gas yang terlepas dari jaringan distribusi dan terakumulasi di ruang tertutup.
Namun, mekanisme tersebut masih berupa kemungkinan yang sedang diperiksa. Pemerintah Jepang belum menetapkan titik kebocoran maupun memastikan bagaimana gas dapat terkumpul hingga akhirnya memicu ledakan.
Ledakan itu menghancurkan area tengah lantai dua di sisi selatan Aeon Mall Kumamoto dan menewaskan tiga karyawan toko di dalam pusat perbelanjaan. Lokasi kejadian menjadi bagian penting dalam penyelidikan karena jaringan penggunaan LPG tersebar di beberapa bagian gedung.

Restoran dan Pujasera Menggunakan LPG
Pihak Aeon menyebut LPG digunakan di restoran-restoran yang berada di sisi utara lantai satu serta pujasera di sisi timur lantai dua. Gas juga digunakan untuk kebutuhan sistem pendingin ruangan.
Distribusi LPG melalui jaringan pipa membuat pemeriksaan setelah gempa menjadi lebih kompleks. Kerusakan pada bangunan dan instalasi harus ditelusuri untuk mengetahui apakah terdapat bagian jaringan yang mengalami gangguan setelah guncangan.
Jarak waktu sekitar 80 menit antara gempa dan ledakan juga menjadi bagian penting dalam rangkaian peristiwa tersebut. Gempa terjadi lebih dahulu, sementara ledakan baru berlangsung pada sore hari ketika proses penanganan dampak gempa masih berlangsung.
Gempa yang mengguncang Kumamoto pada 28 Juli 2026 memiliki magnitudo 7,1. Bencana tersebut menimbulkan korban jiwa dan luka-luka, selain menyebabkan kerusakan bangunan, kebakaran, serta pemadaman listrik di sejumlah wilayah.
Gempa Susulan Masih Terjadi di Kumamoto
Setelah gempa utama, Kumamoto masih mengalami sejumlah gempa susulan dengan skala sekitar 3 hingga 4. Kondisi tersebut membuat aktivitas pemeriksaan dan pemulihan di wilayah terdampak berlangsung dalam situasi yang belum sepenuhnya stabil.
Jepang sendiri merupakan salah satu negara yang paling rawan gempa karena berada di kawasan Cincin Api Pasifik. Aktivitas seismik yang tinggi membuat kesiapsiagaan terhadap gempa menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat dan pengelolaan fasilitas publik.
Dalam kasus Aeon Mall Kumamoto, penyelidikan kini berfokus pada bagaimana jaringan LPG di dalam fasilitas tersebut bereaksi setelah gempa dan dari mana kebocoran gas kemungkinan terjadi. Pemerintah Jepang masih memeriksa penyebab kebocoran yang diduga menjadi pemicu ledakan.