nusantaramerdeka.id — Roket orbital berat New Glenn milik Blue Origin hancur total setelah meledak dahsyat dalam uji coba static fire di Launch Complex 36, Cape Canaveral Space Force Station, Florida, pada Kamis, 28 Mei 2026 malam. Insiden fatal ini melumpuhkan total satu-satunya landasan pacu orbital perusahaan bentukan miliarder Jeff Bezos tersebut.
Ledakan terjadi sekitar pukul 21.00 EDT sewaktu ketujuh mesin BE-4 tahap pertama roket setinggi 98 meter ini mulai menyala. Kobaran api metana dan oksigen cair langsung melalap struktur bawah hingga meruntuhkan seluruh badan roket.
Bencana ini menghantam Blue Origin hanya berselang enam hari semenjak Federal Aviation Administration memberikan izin terbang kembali pada 22 Mei 2026. Regulasi darat yang longgar membuat uji statis ini luput dari pengawasan ketat karena tidak masuk dalam ruang lingkup lisensi penerbangan aktif FAA.
Otoritas militer penjaga pangkalan antariksa langsung mengeluarkan peringatan keras kepada masyarakat luas di sekitar pesisir. Puing-puing tajam sisa ledakan roket raksasa tersebut berpotensi besar hanyut dan terdampar di sepanjang area pantai publik dalam beberapa pekan ke depan.
“It’s too early to know the root cause but we’re already working to find it. Very rough day, but we’ll rebuild whatever needs rebuilding,” tulis Pendiri Blue Origin Jeff Bezos melalui akun X resminya, Kamis, 28 Mei 2026.
Kehancuran infrastruktur utama ini memaksa Blue Origin menghentikan seluruh aktivitas penerbangan orbital minimal selama enam bulan ke depan. Akibatnya, dominasi SpaceX di bawah kendali Elon Musk kian tidak tertandingi dalam bisnis peluncuran satelit komersial global.
Ketegasan manajemen untuk mengusut tuntas kegagalan struktural ini menjadi pertaruhan terakhir bagi reputasi teknologi Blue Origin. Keamanan sektor antariksa domestik kini berada dalam titik nadir pasca hancurnya menara penangkal petir dan sistem penegak roket di LC-36. ***