nusantaramerdeka.id — Militer Israel (IDF) terpaksa mengakui tindakan brutal salah satu personelnya yang terekam kamera menghancurkan patung Yesus Kristus menggunakan palu godam di Desa Debel, Lebanon selatan, pada akhir pekan 19 April 2026.
Insiden provokatif ini terjadi tepat di tengah periode gencatan senjata sepuluh hari yang baru saja disepakati antara Israel dan Lebanon melalui perantara Amerika Serikat.
Penghancuran simbol suci di desa mayoritas Kristen tersebut memicu gelombang kemarahan internasional karena dianggap sebagai bentuk pelecehan terhadap kedaulatan keyakinan di wilayah pendudukan.
Pihak IDF pada Minggu malam (20/4/2026) mengonfirmasi keaslian foto viral tersebut dan menyatakan bahwa perilaku oknum tentara itu sangat tidak konsisten dengan nilai-nilai militer mereka.
Ketegasan di Tengah Pelanggaran Etika Perang
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu langsung mengeluarkan pernyataan resmi untuk meredam kecaman publik dunia yang semakin memanas atas aksi vandalisme religius tersebut.
“Saya mengutuk tindakan ini dengan sangat keras. Kami menyatakan penyesalan atas insiden ini dan atas luka yang ditimbulkan bagi umat beriman di Lebanon dan seluruh dunia,” tegas Netanyahu pada 20 April 2026.
Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar turut melabeli tindakan tersebut sebagai perbuatan yang memalukan dan memastikan akan ada langkah hukum yang sangat tegas bagi pelaku.
Dampak Serius pada Stabilitas Gencatan Senjata
Kecaman keras juga datang dari Washington melalui Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee yang menuntut adanya konsekuensi publik yang berat bagi tentara yang terlibat.
Huckabee menekankan bahwa tindakan yang disebutnya sebagai aksi keterlaluan ini memerlukan respons cepat agar tidak merusak upaya perdamaian yang sedang dibangun di kawasan tersebut.
Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa meskipun gencatan senjata berlaku sejak 17 April 2026, pasukan Israel masih bercokol di wilayah Lebanon selatan yang kini hancur lebur.
Laporan setempat mengonfirmasi bahwa lebih dari satu juta warga Lebanon telah mengungsi dan sekitar 2.300 orang tewas sejak operasi militer besar-besaran Israel dimulai.
Imam setempat di Desa Debel, Pater Fadi Falfel, mengecam keras penistaan simbol suci ini sebagai tindakan mengerikan yang melukai hati nurani warga yang tetap bertahan di desa.
“Salah satu tentara Israel mematahkan salib dan melakukan hal mengerikan ini, sebuah penistaan terhadap simbol suci kami,” ujar Pater Fadi Falfel dalam kesaksiannya. ***