nusantaramerdeka.id — Pulau Jawa yang menjadi pusat populasi dan ekonomi Indonesia kini berada di ambang bom waktu krisis air yang mengancam keberlangsungan hidup jutaan warganya. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mencatat wilayah Jawa telah memasuki fase kritis air dengan angka kekurangan yang sangat mencengangkan untuk memenuhi kebutuhan tahunan masyarakat dan industri.
Deputi Bidang Tata Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Berkelanjutan KLH, Sigit Reliantoro, menegaskan bahwa defisit air ini sudah mencapai angka ratusan miliar meter kubik. “Di Jawa, tahun 2024 lalu, kita sudah kekurangan 118 miliar meter kubik air per tahun untuk memenuhi kebutuhan,” tegas Sigit dalam peringatan Hari Air Sedunia di Jakarta.
Ancaman Kelangkaan Total 2040
Pusat Litbang Sumber Daya Air Kementerian PUPR memproyeksikan ketersediaan air per kapita di Jawa akan terus merosot tajam hingga mencapai titik terendah. Dari angka 1.169 m³ saat ini, ketersediaan diprediksi terjun bebas menjadi hanya 476 m³ per tahun pada 2040, sebuah level yang dikategorikan sebagai kelangkaan total.
Kondisi ini diperparah oleh rusaknya kualitas air permukaan di mana hampir seluruh daerah di Jawa masuk daftar sepuluh besar provinsi dengan kualitas air terburuk. Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menyatakan bahwa pusat kegiatan ekonomi ini justru memiliki kualitas air yang rendah akibat kepadatan penduduk dan aktivitas industri masif.
Kerusakan Hulu dan Amblesan Tanah
Penyebab krisis ini bersifat sistemis, mulai dari pencemaran sungai hingga eksploitasi air tanah berlebihan yang memicu penurunan muka tanah di kota-kota Pantura. Direktur Kehutanan dan Konservasi SDA Bappenas, Dadang Jainal Mutaqin, menyoroti ketimpangan distribusi air antar wilayah yang menempatkan Jawa pada posisi paling rentan.
“Jadi sebenarnya Indonesia kalau di rata-rata air itu masih aman. Tapi kalau kita lihat per pulau, per-region, ini yang banyak kekurangan air ini ada di pulau Jawa,” jelas Dadang pada Jumat (13/3/2026). Tanpa langkah drastis memperbaiki tata ruang dan menghentikan deforestasi, Jawa dipastikan akan mengalami kegagalan ekologis permanen dalam waktu dekat.***