Krisis Ojol Jakarta: Warga Telat Buka Puasa Akibat Kelangkaan Driver

Ilustrasi Ojek Online

nusantaramerdeka.id — Krisis layanan ojek online (ojol) melanda Jakarta pada pertengahan hingga akhir Maret 2026 yang mengakibatkan ribuan warga kesulitan mendapatkan armada transportasi maupun pengantaran makanan menjelang waktu berbuka puasa. Fenomena yang viral dengan tagar “krisis ojol” di media sosial ini dipicu oleh lonjakan permintaan yang mencapai 50 persen, bertepatan dengan periode sakral dua minggu terakhir Ramadan 1447 H.

Kondisi di lapangan menunjukkan waktu tunggu driver yang biasanya hanya 1-3 menit, kini membengkak hingga 30 menit. Dampak sosialnya nyata, di mana banyak pelanggan terpaksa menunda waktu berbuka karena pesanan yang tak kunjung tiba atau transportasi yang sulit didapat di titik-titik krusial ibu kota.

Anatomi Kelangkaan Armada di Jam Sibuk

Berdasarkan data internal platform, lonjakan permintaan layanan GrabExpress bahkan meroket hingga 300 persen akibat pengiriman hampers Lebaran. Namun, lonjakan ini tidak dibarengi dengan kesiapan armada karena mayoritas pengemudi memilih mematikan aplikasi menjelang magrib.

Survei komunitas driver independen menunjukkan sekitar 60 hingga 70 persen mitra memilih off-bid sekitar 30 menit sebelum azan magrib untuk beribadah dan beristirahat. “Saya lebih memilih offbid. Karena kemacetan, saya hanya bisa melayani dua atau bahkan satu penumpang dalam dua jam,” tegas Suryadi, mitra driver Gojek, pada Rabu (13/2/2026).

Baca Juga :  Ribuan Jamaah Shiddiqiyyah Syukuri Lailatul Qadar di Pesantren Jombang

Sistem Algoritma dan Tarif yang Tidak Manusiawi

Persoalan teknis dan kesejahteraan driver turut memperparah krisis ini, di mana tarif hemat dirasa tidak lagi ekonomis saat menghadapi macet total Jakarta. Kecepatan rata-rata kendaraan yang turun di bawah 10 km/jam membuat pendapatan driver tergerus drastis oleh durasi perjalanan yang lama.

Pihak Gojek mengakui adanya pergeseran pola pemesanan yang sangat masif di area bisnis Jakarta Pusat. “Jam sibuk biasanya sudah dimulai sejak pukul 15.30 WIB dan mencapai puncaknya pada pukul 16.00 hingga 18.00 WIB,” kata Bambang Adi Wirawan, Head of Driver Operations Gojek, Kamis (12/3/2026).

Fenomena ini menjadi tamparan bagi perusahaan aplikator untuk segera membenahi sistem tarif dinamis yang lebih adil bagi mitra. Tanpa solusi struktural, krisis musiman ini akan terus berulang dan merugikan produktivitas masyarakat urban di momen penting seperti Ramadan.

Kebutuhan akan transportasi umum cadangan seperti JakLingko menjadi pilihan terakhir bagi warga yang mulai kelelahan dengan ketidakpastian layanan daring. Hal ini menunjukkan bahwa ketergantungan Jakarta pada ojol harus segera dievaluasi dengan memperkuat integrasi transportasi publik yang lebih tangguh.***

Baca Juga :  Unisa Yogyakarta Bangun Laboratorium Stem Cell Demi Keadilan Akses Kesehatan