nusantaramerdeka.id — Keserupaan warna ungu telah lama menyesatkan pemahaman publik tentang dua tanaman pangan yang berbeda secara mendasar: uwi ungu dan ubi ungu. Di pasar tradisional hingga dokumen non-akademik, uwi kerap diperlakukan sebagai sinonim ubi, meski keduanya lahir dari sejarah, ekologi, dan fungsi pangan yang tidak sama.
Secara ilmiah, uwi ungu adalah Dioscorea alata dari famili Dioscoreaceae, sementara ubi ungu merupakan Ipomoea batatas dari famili Convolvulaceae. Perbedaan ini tidak bersifat kosmetik. Uwi tumbuh sebagai tanaman rambat dengan umbi tunggal besar dan umur panen panjang, berkisar delapan hingga dua belas bulan. Ubi ungu sebaliknya, cepat panen dalam tiga hingga empat bulan dan menghasilkan banyak umbi dalam satu siklus.
Literatur botani seperti Flora of Java menegaskan jarak taksonomi keduanya. Penyamaan istilah dinilai mengaburkan karakter ekologis tanaman dan berdampak pada cara riset serta kebijakan pangan disusun.
Jejak sejarah memperjelas perbedaan itu. Arkeolog Peter Bellwood dalam First Farmers mencatat umbi-umbian dari genus Dioscorea sebagai bagian penting subsistensi masyarakat Austronesia awal. Di Nusantara, uwi berperan sebagai pangan cadangan paceklik dan tanaman ladang yang menyatu dengan sistem hutan.
Berbeda dengan itu, ubi ungu merupakan tanaman introduksi dari Amerika yang masuk ke Asia Tenggara pasca abad ke-16. Data FAO mencatat penyebarannya meluas karena cepat panen dan efisien untuk pertanian pasar.
Dari sisi gizi, keduanya sama-sama mengandung antosianin, tetapi fungsi metaboliknya berbeda. Uwi ungu kaya resistant starch dan senyawa diosgenin. Penelitian Sri Nabawiyati Nurul Makiyah dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menunjukkan potensi uwi dalam mendukung kesehatan usus dan sistem imun. Ubi ungu lebih dikenal sebagai sumber energi cepat dengan indeks glikemik relatif lebih tinggi.
Perbedaan biologis, sejarah, dan fungsi ini menjadikan penyamaan uwi dan ubi bukan sekadar keliru, tetapi berisiko menyesatkan arah kebijakan ketahanan pangan.