NusantaraMerdeka.id — Raksasa otomotif asal Jepang, Honda Motor Co., mencetak sejarah kelam dengan membukukan kerugian bersih tahunan sebesar 423,94 miliar yen atau setara Rp 47,1 triliun pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2026. Laporan keuangan terburuk dalam hampir 70 tahun terakhir ini dipicu oleh pembengkakan biaya restrukturisasi massal pada lini bisnis kendaraan listrik yang gagal total di pasar global.
Langkah agresif Honda beralih ke EV terbukti menjadi blunder besar yang menguras kas perusahaan di tengah lesunya permintaan pasar dunia. Manajemen kini dipaksa melakukan pemangkasan target secara drastis demi menyelamatkan kelangsungan bisnis raksasa yang berdiri sejak dekade lalu itu.
Tekanan finansial kian diperparah oleh kebijakan proteksionisme Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menghapus insentif pajak kendaraan listrik sebesar US$7.500 pada September 2025. Kondisi eksternal yang tidak berpihak ini memaksa Honda menghentikan pengembangan tiga model EV andalan untuk pasar Amerika Utara, yakni Honda 0 SUV, Honda 0 Saloon, dan Acura RSX.
“Kami di manajemen menanggapi kerugian ini dengan sangat serius. Kami harus menghentikan kerugian ini dengan secepat mungkin,” tegas CEO Honda Toshihiro Mibe dalam konferensi pers di Tokyo, Kamis, 14 Mei 2026.
Pembatalan proyek bernilai miliaran dolar ini menjadi bukti nyata ketidakmampuan pabrikan tradisional dalam membendung dominasi produk baru. Sikap bersikeras mempertahankan lini produksi yang tidak produktif hanya akan mempercepat kebangkrutan struktural di era kompetisi yang kian sengit.
Dampak guncangan finansial global ini terkonfirmasi mulai menggerogoti performa penjualan Honda di pasar domestik Indonesia. Berdasarkan data wholesales Gaikindo per April 2026, distribusi mobil Honda ke diler merosot tajam hingga tersisa 2.363 unit, yang membuat posisinya terlempar ke urutan sembilan nasional.
Nasionalisme industri harus menjadi alarm bagi para pengambil kebijakan lokal untuk tidak bergantung pada satu korporasi asing. Pivot strategis menuju kendaraan hibrida kini menjadi jalan terakhir bagi Honda jika tidak ingin tergilas sepenuhnya oleh penetrasi pasar mobil China. ***