Surabaya, NusantaraMerdeka.id – Operasi SAR khusus kedaruratan pencarian korban KMP Mutiara Sentosa II yang terbakar di perairan utara Sumenep, Madura, Jawa Timur, resmi ditutup pada Selasa (4/8/2026). Namun, sejumlah keluarga korban masih bertahan di Surabaya pada Rabu (5/8/2026) untuk mencari sanak saudara mereka yang diduga berada di kapal saat insiden tetapi belum ditemukan.
Kecemasan keluarga bertambah karena nama sejumlah kerabat mereka tidak tercantum dalam daftar korban yang telah dievakuasi, baik dalam kondisi selamat maupun meninggal dunia. Kepastian mengenai keberadaan mereka pun belum diperoleh meski keluarga telah mendatangi posko terpadu di Terminal Gapura Surya Nusantara (GSN) Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.
Keluarga Korban KMP Mutiara Sentosa II Masih Menunggu
Anton menjadi salah satu keluarga yang masih menunggu kabar mengenai Abdul Manan, saudaranya yang bekerja sebagai koki atau kru KMP Mutiara Sentosa II milik PT Atosim Lampung Pelayaran (ALP). Abdul disebut telah bekerja di kapal tersebut selama satu hingga dua tahun terakhir.
Anton mengatakan kontak terakhir dengan Abdul terjadi ketika proses pemuatan kapal. Setelah itu, keluarga tidak lagi dapat menghubungi Abdul karena telepon selulernya sudah tidak aktif.
“Setelah dicari enggak ada, sudah dikonfirmasi. Tadi waktu ke masuk posko sudah tanya, jawabannya berusaha dicari sama petugas,” kata Anton saat ditemui di posko terpadu Terminal GSN Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Rabu (5/8/2026).
Keluarga juga telah meminta informasi kepada PT ALP, perusahaan tempat Abdul bekerja. Menurut Anton, pihak perusahaan menyatakan akan turut membantu upaya pencarian.
Ayah Tak Ada Kabar Usai Kirim Video dari Kapal
Penantian serupa dirasakan Muhammad Jasuar Bustam bersama ibunya, Samsiah. Mereka datang ke posko untuk mencari kabar Bustam Sanusi atau Daeng Nappak, ayah Jasuar yang bekerja sebagai sopir asal Makassar dan belum diketahui keberadaannya.
Jasuar mengatakan ayahnya masih sempat mengirim video sekitar pukul 09.00 WIB pada Minggu (2/8/2026). Beberapa jam kemudian, tepatnya sekitar pukul 11.47 WIB, ponsel Bustam sudah tidak dapat dihubungi.
“Bapak yang kirim video jam 09.00 pagi. Setelah itu saya hubungi kembali 11.47 sudah tidak aktif,” ujar Jasuar.
Hasanudin, teman keluarga yang mendampingi Jasuar, mengatakan informasi mengenai kondisi terakhir Bustam diperoleh dari rekannya yang selamat. Menurut cerita tersebut, Bustam sempat ditolong dan dinaikkan ke kapal, tetapi kemudian kembali terjatuh hingga tiga kali karena pelampungnya terlepas.
“Kalau tadi itu ceritanya berdasarkan temannya. Dia sudah ditolong teman, dinaikkan lagi, jatuh lagi, sampai tiga kali. Ceritanya pelampungnya lepas. Hilang. Itu cerita dari temannya yang selamat, kemarin temannya datang,” kata Hasanudin.
Keluarga Pertanyakan Data Penumpang
Meski operasi SAR khusus telah ditutup, Jasuar dan keluarganya memilih tetap berada di Surabaya untuk mengikuti perkembangan pencarian. Mereka juga mempertanyakan tidak tercantumnya nama Bustam dalam daftar penumpang yang dievakuasi, sementara keluarga memiliki bukti video yang menunjukkan keberadaannya di atas kapal.
Hasanudin menyebut ketidaksesuaian data tersebut diduga berkaitan dengan penggunaan tiket atas nama orang lain dan kendaraan pengganti.
“Tiketnya [nama] orang lain. Mobilnya mobil pengganti,” kata Hasanudin.
Situasi tersebut membuat keluarga masih berharap pencarian terhadap korban yang belum ditemukan dapat dilanjutkan. Selain Bustam Sanusi, Hasanudin menyebut Andik Herman, rekan kerja Bustam yang juga berprofesi sebagai sopir, belum ditemukan.
“Harapannya besar pencarian terus dilaksanakan. Masih beberapa hari ini pak, dan ada korban yang belum ditemukan,” ujarnya.
“Andik Herman juga tidak ada. Itu masih satu kerjaan, sopir juga. Andik Herman dan Bustam Sanusi yang belum ketemu,” kata Hasanudin.