Mancanegara

Houthi Gencarkan Serangan ke Bandara Saudi, Ini Strategi Menekan Riyadh

Serangan Terhadap Bandara Riyadh di Arab Saudi
Serangan Terhadap Bandara Riyadh di Arab Saudi

NusantaraMerdeka.id - Kelompok Houthi di Yaman meningkatkan serangan terhadap bandara-bandara Arab Saudi pada Oktober 2026, menewaskan belasan orang dan mengganggu penerbangan sipil. Serangan Houthi ke bandara Saudi bukan sekadar bagian dari perang yang kembali memanas, tetapi juga menjadi cara kelompok tersebut menekan Riyadh agar memberikan konsesi di tengah runtuhnya gencatan senjata dan meningkatnya pertempuran di Yaman.

Dilansir Al Jazeera, Senin (12/10/2026), serangan berulang terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menjadi salah satu gangguan paling serius terhadap penerbangan sipil Saudi dalam beberapa tahun terakhir. Otoritas Saudi bahkan menangguhkan operasional bandara tersebut, sementara sejumlah maskapai membatalkan atau mengubah jadwal penerbangan.

Serangan ini memperlihatkan bagaimana infrastruktur sipil dapat menjadi sasaran tekanan dalam konflik regional. Gangguan terhadap bandara tidak hanya mengancam keselamatan penumpang, tetapi juga menghambat mobilitas internasional dan menimbulkan kekhawatiran bagi pelaku bisnis yang beraktivitas di Saudi.

Houthi Ingin Memaksa Saudi Memberikan Konsesi

Analis konflik sekaligus penasihat European Institute of Peace, Hisham al-Omeisy, menilai Houthi menjalankan pendekatan maksimalis dalam menghadapi Arab Saudi. Menurut dia, kelompok tersebut berupaya meningkatkan tekanan sampai memperoleh konsesi lebih besar dari Riyadh.

"Mereka adalah kelompok yang menganut pendekatan maksimalis dan akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk mencapai tujuan mereka, termasuk memperoleh lebih banyak konsesi dari pihak Saudi," kata al-Omeisy kepada Al Jazeera.

Penilaian tersebut menunjukkan bahwa serangan terhadap bandara memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar menimbulkan kerusakan. Tekanan terhadap infrastruktur penting dapat meningkatkan biaya keamanan, mengganggu aktivitas ekonomi, dan mendorong pemerintah Saudi mempertimbangkan kembali langkah militernya di Yaman.

Al-Omeisy juga memperkirakan serangan dapat meluas ke jaringan pipa minyak dan fasilitas energi. Namun, prediksi itu merupakan penilaian analis, bukan kepastian bahwa sasaran tersebut akan diserang.

Bandara Menjadi Simbol Ambisi Ekonomi Saudi

Arab Saudi selama bertahun-tahun berupaya membangun citra sebagai pusat pariwisata, investasi, transportasi, dan penyelenggaraan acara internasional. Karena itu, serangan terhadap bandara di Riyadh berpotensi merusak kepercayaan terhadap keamanan negara tersebut, terutama ketika kerajaan sedang menggelar agenda internasional di sektor energi dan investasi.

Gangguan penerbangan juga memperlihatkan bahwa dampak konflik dapat menjalar jauh melampaui wilayah pertempuran. Pembatalan perjalanan dan peringatan keamanan dari negara lain berisiko menghambat aktivitas bisnis serta memperbesar tekanan terhadap pemerintah Saudi untuk memulihkan keamanan penerbangan.

Meski demikian, gangguan tersebut belum otomatis berarti ambisi ekonomi Saudi akan gagal. Besarnya dampak jangka panjang akan bergantung pada kemampuan pemerintah memulihkan keamanan bandara dan menjaga kepercayaan investor serta pelancong internasional.

Gencatan Senjata yang Runtuh Memperuncing Konflik Yaman

Eskalasi serangan berlangsung ketika pertempuran antara Houthi yang bersekutu dengan Iran dan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Saudi kembali meningkat. Gencatan senjata yang ditengahi Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2022 sebelumnya meredakan sebagian kekerasan, tetapi tidak menyelesaikan akar konflik.

Houthi menguasai Sanaa dan sebagian wilayah barat laut Yaman sejak 2014. Di sisi lain, Arab Saudi mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, sehingga infrastruktur Saudi menjadi bagian dari tekanan dalam pertarungan yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Houthi menyebut serangannya sebagai balasan atas pembatasan terhadap pelabuhan dan bandara di wilayah yang mereka kuasai serta serangan udara yang mereka tuduhkan dilakukan pihak Saudi. Pemerintah Yaman, sementara itu, menyatakan serangan terhadap fasilitas bandara di wilayah Houthi bertujuan mencegah pendaratan pesawat Iran tanpa izin.

Situasi ini membuat bandara menjadi bagian dari lingkaran saling serang yang berisiko memperluas konflik. Warga sipil berada dalam posisi rentan ketika fasilitas transportasi yang mereka gunakan untuk bepergian, bekerja, atau menjalankan ibadah ikut terdampak operasi militer.

Reuters melaporkan pada 12 Oktober bahwa operasional Bandara Internasional King Khalid di Riyadh ditangguhkan setidaknya hingga 17 Oktober akibat serangan rudal dan drone yang berulang. Penangguhan tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap Saudi telah berkembang menjadi gangguan nyata bagi penerbangan sipil, bukan lagi sekadar ancaman militer.