Mancanegara

Benarkah IRGC Incar Selat Malaka dan Tanjung Priok? Ini Kata Mantan Dubes RI

Perairan Selat Malaka merupakan jalur perlintasan yang sangat penting
Perairan Selat Malaka merupakan jalur perlintasan yang sangat penting

NusantaraMerdeka.id - Tudingan Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengincar Selat Malaka, Selat Bangka, hingga Tanjung Priok diragukan mantan Duta Besar RI untuk Iran Dian Wirengjurit. Menurut Dian, klaim tersebut tidak sejalan dengan kemampuan militer dan jangkauan armada Iran yang selama ini lebih berfokus pada wilayah di sekitar Teluk Persia dan Laut Kaspia.

IRGC Incar Selat Malaka Dipertanyakan dari Kemampuan Armada

Penilaian itu disampaikan Dian dalam siniar Madilog di kanal Forum Keadilan TV, Sabtu, 3 Oktober 2026. Perbincangan tersebut dipandu jurnalis senior Darmawan Sepriyossa.

Dian membedah tudingan yang sebelumnya muncul dalam laporan Iran International pada 31 Agustus 2026. Media berbahasa Persia yang berbasis di London itu menyebut Unit 4000, divisi operasi khusus di bawah Organisasi Intelijen IRGC, menyusun rencana serangan di Selat Malaka dan Selat Bangka.

Laporan tersebut juga menyebut Tanjung Priok serta pelabuhan Ningbo-Zhoushan dan Shanghai di China sebagai sasaran. Tiga warga negara Indonesia bahkan disebut diduga telah direkrut oleh unit tersebut, meski laporan itu bersandar pada sumber yang identitasnya tidak dibuka.

Menurut Dian, klaim tersebut perlu diuji dari aspek kemampuan militer Iran. Ia menilai doktrin pertahanan Iran bersifat defensif dan kekuatan laut negara itu tidak menunjukkan kemampuan untuk melakukan operasi seperti yang digambarkan dalam laporan tersebut.

"Tidak satu butir peluru pun dilontarkan ke tetangganya," kata Dian.

Jangkauan Armada Iran Dinilai Tidak Sampai Priok

Dian menyebut kekuatan laut Iran selama ini berfokus menjaga wilayah teritorial di Teluk Persia dan Laut Kaspia. Karena itu, gagasan kapal perang Iran menjangkau Batam atau Tanjung Priok dinilainya terlalu jauh.

Aktivitas pelayaran Iran menuju India dan China, menurut Dian, lebih berkaitan dengan hubungan perdagangan, termasuk pengiriman minyak kepada negara yang menjadi pembelinya. Kondisi di laut lepas juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan karena keberadaan kekuatan militer Amerika Serikat.

Konteks tersebut penting karena Selat Malaka memang merupakan salah satu jalur pelayaran strategis dunia. Jalur ini juga berada di kawasan yang sangat sensitif terhadap perkembangan keamanan dan geopolitik Asia.

Ketegangan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel pada 2026 ikut meningkatkan perhatian terhadap jalur energi dan perdagangan. Perang pecah pada 28 Februari 2026 setelah AS dan Israel menyerang Iran, sementara gencatan senjata 60 hari antara Washington dan Teheran kemudian runtuh pada 8 Juli.

Data pemerintah AS yang dikutip CNBC menyebut sekitar 29 persen arus minyak laut dunia melewati Selat Malaka pada semester pertama 2025. Angka tersebut menjelaskan mengapa setiap kabar mengenai ancaman terhadap jalur ini mudah memicu perhatian pasar dan negara-negara di kawasan.

Laporan Iran International Dibantah

Persoalan tidak berhenti pada perdebatan mengenai kemampuan militer Iran. Kredibilitas sumber informasi juga menjadi bagian penting dalam menilai tudingan IRGC mengincar Selat Malaka.

Dian mempertanyakan pemberitaan Iran International dan menyebut media tersebut sebagai media oposisi. Ia juga mengaitkan persoalan itu dengan pengalaman sebelumnya ketika informasi intelijen mengenai Iran di Indonesia menurutnya diterima tanpa pemeriksaan memadai.

Namun, tudingan mengenai keberpihakan atau pendanaan media tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai fakta tanpa bukti yang dapat diverifikasi. Iran International sendiri membantah tudingan bahwa medianya terikat dengan pemerintah tertentu dan menyatakan dimiliki investor swasta.

Bantahan juga datang dari Kedutaan Besar Iran di Jakarta. Dalam pernyataan resmi yang dimuat Sindonews pada 25 September 2026, Kedubes Iran menyebut laporan tersebut tidak berdasar dan mustahil diverifikasi.

Ahlulbait Indonesia atau ABI turut menyampaikan hak jawab pada 14 September 2026. Organisasi tersebut menolak pengaitan Ketua Umumnya Zahir Yahya dan anggota Dewan Syura Abdullah Assegaff dengan Unit 4000.

ABI menyatakan laporan tersebut tidak menyertakan dokumen ataupun transaksi yang dapat diperiksa secara independen. Sampai berita ini ditulis, Kementerian Luar Negeri, Badan Intelijen Negara, dan TNI belum memberikan tanggapan resmi mengenai tudingan tersebut.

Dian Soroti Bahaya Informasi Intelijen yang Tak Teruji

Pengalaman lain yang diceritakan Dian menjadi alasan dirinya meminta masyarakat lebih kritis terhadap informasi mengenai aktivitas intelijen. Ia mengisahkan pernah muncul informasi mengenai seorang warga Iran yang ditangkap di Bali menjelang Indonesia menjadi tuan rumah presidensi G20.

Menurut Dian, ia sempat menulis bahwa orang tersebut hanya seorang turis yang menunggak biaya kos. Namun, seorang petinggi kemudian menghubunginya dan menyebut orang itu sebagai intelijen bayaran Israel yang diduga hendak menggagalkan KTT G20.

"Sakit jiwa ini, informasi seperti ini diterima bulat-bulat," kata Dian.

Dari pengalaman tersebut, Dian menilai pemahaman mengenai cara kerja intelijen perlu diperkuat. Ia menyebut agen yang benar-benar ditanam untuk operasi jangka panjang biasanya membutuhkan waktu untuk membangun jaringan dan menguasai lingkungan setempat.

Ia kemudian mencontohkan Eli Cohen, agen Israel yang menyusup ke lingkar elite Suriah pada 1960-an, serta Takeo Yoshikawa yang melakukan kegiatan mata-mata Jepang menjelang serangan ke Pearl Harbor pada 1941.

Contoh tersebut digunakan Dian untuk menjelaskan bahwa tuduhan mengenai operasi intelijen seharusnya tidak diterima hanya berdasarkan klaim. Bukti, konteks, dan kemampuan operasional perlu diperiksa sebelum sebuah informasi dinilai benar.

Selat Malaka Tetap Jadi Jalur Strategis

Terlepas dari benar atau tidaknya tudingan tersebut, posisi Selat Malaka memang membuat setiap isu keamanan di kawasan ini memiliki konsekuensi luas. Jalur tersebut menjadi salah satu rute penting bagi perdagangan dan pergerakan energi internasional.

Karena itu, informasi mengenai dugaan ancaman terhadap Selat Malaka perlu dibedakan antara fakta yang telah terverifikasi, klaim dari sumber tertentu, serta analisis narasumber. Pembedaan tersebut penting agar isu keamanan tidak berkembang menjadi kepanikan tanpa dasar.

Dian juga menyoroti posisi Indonesia dalam hubungan ekonomi dengan Iran. Ia menyebut Pertamina pernah membeli elpiji dari Iran, tetapi pengiriman kemudian terhenti setelah Amerika Serikat memberikan teguran.

Menurut Dian, kondisi tersebut menunjukkan bagaimana hubungan Indonesia dengan Iran berada dalam lingkungan geopolitik yang kompleks. Indonesia perlu menjaga kepentingannya sendiri tanpa mengabaikan tekanan dan dinamika hubungan antarnegara.

Pada akhirnya, tudingan IRGC mengincar Selat Malaka dan Tanjung Priok masih menjadi klaim yang diperdebatkan. Laporan yang menjadi sumber tudingan telah dibantah oleh Kedubes Iran dan ABI, sementara hingga artikel ini ditulis belum ada tanggapan resmi dari Kementerian Luar Negeri, BIN, maupun TNI.

Darmawan Sepriyossa menutup perbincangan dengan mengingatkan publik agar tidak menerima begitu saja setiap informasi mengenai Iran, tetapi juga tidak otomatis menganggap seluruh tudingan sebagai propaganda. "Jangan mudah takut, jangan mudah percaya, dan jangan pernah berhenti berpikir," kata Darmawan.