Lombok, NusantaraMerdeka.id – Pemulihan kampung adat Sade diarahkan tidak sekadar mengembalikan kondisi kawasan setelah situasi darurat tertangani. Masyarakat menjadi prioritas, sementara upaya membangkitkan kembali Sade harus tetap menjaga jati diri yang selama ini melekat pada kehidupan kampung adat tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Widiyanti saat menegaskan arah pemulihan Kampung Adat Sade. Menurut dia, penanganan kondisi darurat menjadi langkah pertama sebelum masyarakat bersama-sama memikirkan proses pemulihan.
Masyarakat Jadi Prioritas Pemulihan Kampung Adat Sade
Widiyanti menegaskan pemulihan harus dimulai dari kebutuhan masyarakat. Pendekatan tersebut menempatkan warga sebagai bagian penting dalam proses untuk membuat Sade kembali bangkit.
“Prioritas kita sekarang adalah masyarakat. Setelah kondisi darurat tertangani, kita akan bersama-sama memikirkan pemulihannya,” kata Widiyanti.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa pemulihan Kampung Adat Sade tidak hanya dipandang sebagai upaya mengembalikan kondisi kawasan. Ada perhatian agar masyarakat tetap menjadi pusat dalam setiap langkah setelah fase darurat berakhir.
Bangkit Tanpa Kehilangan Jati Diri
Bagi kampung adat, pemulihan juga berkaitan dengan keberlanjutan identitas yang menjadi ciri kehidupan masyarakatnya. Karena itu, proses membangkitkan kembali Sade diarahkan agar tidak menghilangkan karakter yang membuat kampung tersebut tetap memiliki jati diri.
Widiyanti menegaskan keinginan tersebut secara langsung. “Kita ingin Sade bangkit kembali tanpa kehilangan jati dirinya,” ujarnya.
Pesan tersebut membuat pemulihan Kampung Adat Sade memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar mengatasi kondisi darurat. Masyarakat dan identitas kampung menjadi dua hal yang ditempatkan dalam arah pemulihan berikutnya.
Untuk saat ini, penanganan kondisi darurat tetap menjadi prioritas. Setelah tahap tersebut tertangani, pembahasan mengenai pemulihan Kampung Adat Sade akan dilakukan bersama dengan masyarakat.