Tanggul Sungai Tuntang Jebol, 2 Warga Demak Tewas Terjang Banjir

Tanggul Sungai Tuntang Jebol

nusantaramerdeka.id — Bencana banjir besar kembali melumpuhkan Kabupaten Demak, Jawa Tengah, setelah enam titik tanggul Sungai Tuntang jebol pada Jumat, 3 April 2026. Peristiwa tragis ini menelan dua korban jiwa dan memaksa sedikitnya 2.839 warga dari sembilan desa untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Debit air yang meningkat drastis akibat hujan intensitas tinggi memicu jebolnya tanggul di Desa Trimulyo dan Desa Sidoharjo, Kecamatan Guntur. Luapan air dengan ketinggian mencapai 140 sentimeter merendam permukiman warga di empat kecamatan, menghancurkan infrastruktur, serta menyebabkan lima unit rumah roboh seketika.

Tim gabungan BPBD Demak bersama relawan bergerak cepat melakukan evakuasi menggunakan perahu karet di tengah arus yang masih deras. Hingga Sabtu sore, petugas masih melakukan pendataan mendalam terkait kerusakan bangunan sementara tren genangan air di beberapa titik dilaporkan mulai menunjukkan penurunan.

Duka Mendalam di Balik Jebolnya Tanggul

Bencana ini menyisakan duka setelah Anita Rahmawati, seorang bocah berusia sekitar delapan tahun, ditemukan tewas terseret arus di Dukuh Solowire. Korban kedua ditemukan pada Sabtu siang, mempertegas urgensi penguatan sistem peringatan dini bagi masyarakat di sepanjang aliran sungai yang rawan meluap.

Baca Juga :  Banjir Jakarta Sebabkan Kemacetan Tol Dalam Kota, Akses Rawa Bokor Ditutup

“Ribuan pengungsi tersebut mengungsi ke sejumlah tempat, mulai dari balai desa, kantor kecamatan, tempat ibadah, sekolah, hingga rumah warga. Total ada 14 lokasi pengungsian,” tegas Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Demak, Agus Sukiyono, pada Sabtu, 4 April 2026.

Evaluasi Total Infrastruktur Sungai

Jebolnya enam titik tanggul secara bersamaan menjadi sinyal buruk bagi ketahanan infrastruktur pengendali banjir di wilayah Jawa Tengah. Pemerintah daerah kini fokus pada distribusi logistik dan karung pasir untuk menutup celah tanggul sepanjang 30 meter yang masih mengancam keselamatan warga desa.

Demak kini berada dalam status waspada tinggi mengingat catatan historis kerugian ekonomi akibat banjir di wilayah ini merupakan yang tertinggi di Jawa Tengah. Pemulihan pascabencana menuntut komitmen nyata pemerintah pusat untuk melakukan normalisasi sungai secara menyeluruh, bukan sekadar penambalan darurat yang bersifat sementara.

Ketegasan dalam audit fisik tanggul Sungai Tuntang mutlak diperlukan agar nyawa warga tidak terus menjadi taruhan setiap kali musim hujan tiba. Tanpa langkah berani dalam pembenahan struktural, predikat Demak sebagai wilayah dengan risiko bencana hidrometeorologi ekstrem akan sulit dilepaskan. ***

Baca Juga :  KPK Sikat Bupati Tulungagung dalam OTT Ke-10 Tahun 2026