Iran Buka Selat Hormuz Namun Blokade AS Masih Mengancam Jalur Energi

Kapal menyebrangi Selat Hormuz

nusantaramerdeka.id — Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi resmi mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz bagi kapal komersial pada Sabtu, 18 April 2026, guna meredakan ketegangan energi global pasca gencatan senjata di Lebanon.

Langkah strategis ini diambil setelah tujuh minggu blokade total yang melumpuhkan 20 persen pasokan minyak dunia sejak konflik pecah pada akhir Februari lalu. Dunia kini menanti apakah jalur ini benar-benar aman dari sisa ranjau laut.

Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan terbuka sepenuhnya selama sisa periode gencatan senjata, melalui rute koordinasi yang telah diumumkan oleh Organisasi Pelabuhan dan Maritim Iran, ujar Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran, dalam pernyataan resminya pada 17 April 2026.

Iran menegaskan bahwa hanya kapal non-militer yang diizinkan melintas melalui jalur koordinasi di bagian utara selat dekat Pulau Larak. Pengawasan ketat tetap dilakukan oleh Angkatan Laut IRGC untuk memastikan tidak ada penyusupan militer.

Ancaman Blokade Sepihak Amerika Serikat

Meski Iran melunakkan posisi di Selat Hormuz, ketegangan belum sepenuhnya mereda karena Amerika Serikat justru memperketat tekanan di wilayah luar selat. Presiden Donald Trump mengonfirmasi bahwa blokade naval terhadap pelabuhan Iran tetap berlaku.

Baca Juga :  Protokoler Ketat Iran Batasi Akses Dubes RI di Persemayaman Khamenei

Blokade ini menargetkan seluruh aktivitas keluar-masuk logistik di pelabuhan Iran hingga kesepakatan nuklir baru tercapai sepenuhnya. Situasi ini menciptakan anomali di mana jalur internasional terbuka, namun akses pelabuhan regional tetap terkunci rapat.

Blokade laut akan tetap berlaku penuh dan efektif terhadap Iran saja, sampai transaksi kami dengan Iran selesai 100 persen tegas Presiden AS Donald Trump lewat pernyataan resminya pada 17 April 2026.

Kedaulatan Energi Asia dan Risiko Displacement Effect

Negara-negara Asia seperti China dan India menjadi pihak yang paling terdampak oleh ketidakpastian durasi pembukaan selat ini. Ketergantungan China sebesar 40 persen pada impor minyak via Hormuz memaksa mereka mencari jaminan keamanan rute.

Para analis memperingatkan adanya risiko perebutan pasokan alternatif jika pembukaan ini hanya bersifat sementara mengikuti durasi gencatan senjata Lebanon selama 10 hari. Jika blokade AS berlanjut, Iran mengancam akan melakukan tindakan balasan serupa.

Jika pihak lain memilih untuk melanggar komitmennya dan jika blokade laut terus berlanjut, Republik Islam Iran akan mengambil langkah-langkah balasan yang diperlukan, tegas Esmaeil Baghaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, pada 18 April 2026.

Baca Juga :  Trump-Xi Bertemu di Beijing Bahas Krisis Global dan AI

Pasar bereaksi cepat dengan jatuhnya harga minyak Brent hingga 8,94 persen menjadi 90,05 dollar AS per barel segera setelah pengumuman. Namun, pemilik kapal masih ragu melintas karena masalah asuransi risiko perang yang belum tuntas. ***