Daerah

Karhutla Bromo Meluas hingga 127 Hektare, Akses Wisata Dibatasi

Tim gabungan melakukan pemadaman darat menggunakan gepyok dan sprayer di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Rabu (5/8). - dok BPBD Provinsi Jawa Timur
Tim gabungan melakukan pemadaman darat menggunakan gepyok dan sprayer di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Rabu (5/8). - dok BPBD Provinsi Jawa Timur

Probolinggo, NusantaraMerdeka.id - Karhutla Bromo di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, masih aktif hingga Jumat (7/8/2026). Luas area terdampak dilaporkan berada di kisaran 86 hingga 127 hektare, sementara akses wisata di sejumlah jalur dibatasi untuk mendukung penanganan kebakaran.

Karhutla Bromo Meluas, Akses Wisata Dibatasi

Kebakaran pertama kali terdeteksi pada Senin (3/8) sekitar pukul 17.00 WIB di kawasan TNBTS. Pada malam harinya, Balai Besar TNBTS menutup akses wisata melalui pintu Jemplang dan Coban Trisula di Malang serta Senduro di Lumajang.

Penutupan dilakukan karena api terus berkembang dan kondisi lapangan menyulitkan proses pemadaman. Angin kencang serta vegetasi yang mengering selama musim kemarau membuat api lebih cepat merambat.

Hingga Kamis (6/8), luas area terdampak dilaporkan telah mencapai puluhan hektare dan terus bertambah. Data yang dihimpun dari sejumlah pihak menunjukkan angka berbeda, mulai dari 70, 80 hingga 127 hektare karena pengukuran dilakukan pada waktu yang berbeda.

Pada Jumat (7/8), Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha menyebut luas area terdampak mencapai sekitar 120 hektare. Sementara BPBD Kabupaten Probolinggo sebelumnya melaporkan angka 127 hektare.

Akses Bromo Masih Dibatasi

Di tengah karhutla Bromo, dua pintu masuk wisata yang masih dibuka juga tidak dapat digunakan secara penuh. Akses melalui Cemoro Lawang di Probolinggo dan Wonokitri di Pasuruan hanya diperbolehkan sampai kawasan Lautan Pasir.

Adapun akses menuju kawasan savana ditutup karena wilayah tersebut berada dalam area yang terdampak kebakaran dan masih membutuhkan penanganan. Pembatasan ini sekaligus mengurangi aktivitas masyarakat di sekitar lokasi agar proses pemadaman dapat berlangsung lebih aman.

Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto mengatakan kebakaran turut berdampak terhadap sektor pariwisata dan masyarakat yang biasa mengakses kawasan Bromo dari arah Malang maupun Lumajang.

"Tentu dampak kebakaran hutan dan lahan ini juga berpengaruh terhadap sektor pariwisata. Aktivitas wisata belum berjalan maksimal, begitu pula masyarakat dari arah Malang maupun Lumajang yang terdampak karena akses menuju kawasan wisata masih dibatasi."

Pemadaman Diperkuat dari Darat dan Udara

Petugas gabungan terus melakukan pemadaman melalui jalur darat dengan mengerahkan mobil pemadam, mobil tangki air, sprayer, gepyok, serta membuat sekat bakar untuk menghentikan pergerakan api.

Upaya dari udara juga diperkuat menggunakan drone water spray berkapasitas sekitar 100 hingga 150 liter. Sebagian drone tersebut dapat membawa cairan foam untuk membantu proses pemadaman di titik yang sulit dijangkau petugas darat.

Selain drone, dua helikopter water bombing dari BNPB dan TNI AL mulai dikerahkan pada Jumat (7/8). Operasi udara tetap bergantung pada kondisi cuaca dan jarak pandang di kawasan pegunungan.

Kabut tebal yang muncul pada sore hari menjadi salah satu kendala karena dapat memaksa operasi udara dihentikan sementara demi keselamatan penerbangan. Kondisi topografi kawasan Bromo yang ekstrem juga membuat akses menuju sejumlah titik kebakaran tidak mudah.

Hujan Buatan Belum Bisa Dilaksanakan

Pemerintah juga mempertimbangkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu penanganan kebakaran. Namun, hingga 6 Agustus, operasi tersebut belum dapat dilaksanakan karena kondisi pertumbuhan awan hujan belum memadai.

Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto mengatakan pelaksanaan OMC dikoordinasikan dengan BMKG dan BNPB. Artinya, opsi hujan buatan masih bergantung pada kondisi atmosfer yang memungkinkan untuk dilakukan.

Sementara itu, penyebab pasti sumber api masih menjadi bagian yang ditelusuri. Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha menyebut sumber api berasal dari aktivitas manusia, sedangkan cuaca menjadi faktor yang memperbesar dan mempercepat rambatan api.

"Kalau pastinya dari manusia. Bukan dari alam. Kalau cuaca itu kan, membuat api membesar, merambat. Tetapi kalau sumber (api) bukan karena cuaca."

Hingga Jumat (7/8), belum ada laporan korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Petugas gabungan masih berupaya mengendalikan titik api yang aktif, sementara akses wisata di kawasan TNBTS tetap dibatasi.