Jejak Shiddiqiyyah Berawal dari Isro’ Mi’roj, Bangkit di Nusantara

Peduli Duafa, Warga Shiddiqiyyah Serahkan Ratusan Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia 2025

nusantaramerdeka.id—Thoriqoh Shiddiqiyyah memiliki akar sejarah yang berpaut langsung dengan peristiwa fundamental Islam, Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad SAW. Dari peristiwa inilah nilai shiddiq—kejujuran dan pembenaran tanpa ragu—menjadi fondasi spiritual yang kemudian berkembang lintas zaman hingga bangkit kembali di Nusantara.

Sejarah Shiddiqiyyah bermula dari sikap Abu Bakar Ash-Shiddiq RA yang membenarkan peristiwa Isro’ Mi’roj ketika banyak pihak meragukan bahkan mencemoohnya. Keteguhan itu membuat Rasululloh SAW menganugerahkan gelar Ash-Shiddiq kepada Abu Bakar, yang bermakna orang yang sangat jujur dan membenarkan kebenaran tanpa syarat.

Peristiwa Isro’ Mi’roj sendiri terjadi ketika Nabi Muhammad SAW diperjalankan dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha di Palestina, lalu dimi’rojkan hingga Sidratul Muntaha. Setelah Nabi menyampaikan peristiwa tersebut kepada umat, masyarakat terbelah menjadi tiga kelompok: yang membenarkan, yang ragu, dan yang menolak.

Dari golongan yang membenarkan itulah lahir istilah Shiddiq, yang kemudian menjadi penanda jalan spiritual Shiddiqiyyah.

Estafet ajaran ini berlanjut hingga masa Syekh Abu Yazid Al-Busthomi atau Thoifur bin ‘Isa pada abad ke-9 Masehi. Pada periode ini, Shiddiqiyyah berkembang pesat di wilayah Busthom, Iran, dan Irbil, Irak. Ajaran tersebut menjadi pilar pembentukan kesadaran tauhid dan kejujuran batin masyarakat setempat.

Baca Juga :  5 Kota Terkecil di Jawa Barat Berdasarkan Luas Wilayah, Cirebon Teratas

Namun setelah wafatnya Abu Yazid Al-Busthomi pada 874 M, nama Shiddiqiyyah perlahan menghilang. Sejumlah catatan ulama, termasuk Syekh Amin Al-Qurdi dalam Tanwirul Qulub, menyebut perubahan nama thoriqoh mengikuti nama mursyid yang memimpin pada masanya.

Nama Shiddiqiyyah kemudian berubah menjadi Thoifuriyyah, Khuwajikaniyyah, hingga Naqsyabandiyyah. Perubahan inilah yang membuat istilah Shiddiqiyyah nyaris tenggelam dari ingatan publik selama berabad-abad.

Kebangkitan terjadi di Indonesia. Ulama asal Ploso, Jombang, Jawa Timur, Syekh Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi, kembali menghidupkan nama Shiddiqiyyah sejak 1960. Ajaran ini berkembang melalui beberapa fase hingga resmi berdiri sebagai Thoriqoh Shiddiqiyyah pada 4 April 1972.

Syekh Mukhtar menegaskan, Shiddiqiyyah tidak berhenti pada ritual, tetapi hadir dalam kehidupan sosial, pendidikan, dan kebangsaan. Prinsip kejujuran dan iman menjadi dasar gerakan spiritual yang menyatu dengan kehidupan masyarakat.