Rial Iran Ambruk, Rp 20 Ribu Kini Setara 1,3 Juta IRR

Rial Iran

NusantaraMerdeka.id – Di tengah krisis ekonomi yang makin parah, nilai rial Iran anjlok tajam terhadap berbagai mata uang, termasuk rupiah, pada Rabu (14/1) dengan kurs Rp 1 setara 63,39 IRR. Di Jakarta dan Teheran, pergerakan ini menandai melemahnya daya beli warga Iran karena Rp20 ribu kini bernilai sekitar 1,3 juta rial Iran. Fenomena ini terjadi setelah nilai tukar IRR runtuh ribuan persen sejak awal 2025 akibat inflasi tinggi dan tekanan fiskal.

Rupiah Jadi “Mata Uang Kuat” di Mata Rial Iran

Pagi hari di pasar valuta Asia, angka konversi membuat banyak pelaku pasar tercengang. Untuk pertama kalinya, selembar Rp20 ribu setara lebih dari satu juta rial Iran, tepatnya sekitar 1,3 juta IRR. Angka ini jauh melompat dari posisi awal 2025, ketika Rp 1 masih setara 2,5 IRR.

Dalam hitungan persentase, kurs rial Iran terhadap rupiah amblas sekitar 2.360 persen. Dalam waktu singkat, masyarakat Iran harus menukar tumpukan uang tunai hanya untuk mendapatkan nilai yang sangat kecil jika dibandingkan dengan mata uang regional seperti rupiah.

Baca Juga :  Trump Berang, Anggota NATO Tolak Bantu Amerika Perang Lawan Iran

Sebelumnya, pelemahan rial Iran lebih sering disorot terhadap dolar AS. Per hari ini, US$1 tercatat setara 1,06 juta IRR, naik ekstrem dari awal tahun di level 42 ribu IRR. Namun ketika rupiah pun kini terlihat “perkasa” di hadapan IRR, gambaran keterpurukan ekonomi Iran menjadi semakin gamblang.

Daya Beli Warga Tergerus, Harga Kebutuhan Ikut Melonjak

Dari Teheran hingga kota-kota kecil di Iran, pelemahan rial Iran langsung memukul kehidupan sehari-hari. Harga daging, beras, hingga kebutuhan dapur lain terus naik karena hampir seluruh rantai pasok bergantung pada bahan baku impor atau komponen yang dihargai dalam dolar AS.

Inflasi Iran sudah menyentuh 42 persen pada Desember 2025. Dengan kurs rial Iran yang terus melemah terhadap rupiah maupun dolar, tekanan harga kini merambat ke semua sektor, termasuk energi.

Selama puluhan tahun, Iran dikenal memiliki harga BBM yang sangat murah karena subsidi besar pemerintah. Namun, anjloknya rial Iran membuat anggaran negara tertekan. Menurut laporan AP News, sejak Desember 2025 pemerintah Iran menerapkan skema harga bensin tiga tingkat untuk menahan beban fiskal.

Baca Juga :  Rupiah Jeblok Tembus 17.600, BI Gempur Pasar Valas Lintas Benua

Dalam kebijakan baru itu, setiap pengendara masih memperoleh jatah 60 liter per bulan dengan harga subsidi 15 ribu rial Iran per liter. Setelah kuota habis, 100 liter berikutnya dijual 30 ribu IRR per liter. Konsumsi di atas 160 liter melonjak menjadi 50 ribu rial Iran per liter, jauh lebih mahal dibanding periode sebelumnya.

Tekanan Global dan Masalah Domestik

Di pasar mata uang dunia, rial Iran kini tercatat sebagai mata uang terlemah dengan nilai sekitar 1.092.500 IRR per dolar AS. Posisi ini lahir dari kombinasi sanksi ekonomi internasional, konflik geopolitik, serta inflasi domestik yang tak terkendali.

Sanksi Barat membatasi ekspor minyak Iran dan menutup akses ke sistem keuangan global. Di sisi lain, kebijakan mencetak uang untuk menutup defisit anggaran mempercepat devaluasi rial Iran. Ketika rupiah Indonesia kini mampu “mengalahkan” IRR, publik mendapat gambaran betapa rapuhnya fondasi ekonomi Iran saat ini.