Pulau Kharg Membara: AS Hancurkan 90 Target Militer Strategis Iran

Pulau Kharg

nusantaramerdeka.id — Militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara besar-besaran yang menghancurkan sedikitnya 90 target militer di Pulau Kharg, Iran, pada Jumat (13/3/2026). Operasi kilat ini menyasar sistem pertahanan udara, radar, hingga pangkalan pendaratan tanpa merusak infrastruktur minyak utama di wilayah tersebut.

Langkah ini menjadi peringatan keras bagi Teheran mengingat Pulau Kharg adalah jantung ekonomi negara. Pulau ini mengelola hingga 95 persen ekspor minyak mentah Iran yang menjadi sumber utama pendapatan rezim untuk membiayai operasional militer dan pemerintahan.

Netralisasi Pertahanan Sebelum Invasi

Penghancuran target militer di pulau terlarang ini memicu spekulasi akan adanya operasi amfibi lanjutan oleh Marinir AS. Mantan pejabat Treasury AS, Miad Maleki, pada Sabtu (14/3/2026), menegaskan bahwa pola serangan ini sangat identik dengan prosedur standar sebelum melakukan pendudukan wilayah.

“Serangan 13 Maret menghancurkan landasan pacu, pangkalan angkatan laut, pertahanan udara, dan gudang ranjau: persis target yang Anda netralkan sebelum serangan amfibi atau udara,” ujar Miad Maleki dalam analisis strategisnya.

Baca Juga :  Selat Hormuz Membara, Harga Minyak Dunia Meledak Hingga US$81

Ancaman Ekonomi Global

Meskipun infrastruktur energi belum disentuh, ketegangan ini langsung mengguncang pasar minyak dunia karena Pulau Kharg melayani loading supertanker VLCC. Jika fungsi pelabuhan air dalam ini terhenti, Iran dipastikan kehilangan pendapatan sekitar USD 78 miliar per tahun dan melumpuhkan ekonomi domestik.

Presiden AS Donald Trump menyatakan sengaja menahan diri untuk tidak melenyapkan fasilitas minyak demi alasan kemanusiaan dan stabilitas pasar global. Namun, Trump memperingatkan bahwa keputusan itu bisa berubah jika Iran nekat mengganggu stabilitas navigasi di Selat Hormuz.

Pihak Garda Revolusi Iran (IRGC) merespons keras dengan mengancam akan menyerang pangkalan-pangkalan AS yang tersebar di wilayah Uni Emirat Arab (UEA). Iran menganggap serangan ini sebagai pelanggaran kedaulatan serius dan menyiapkan rudal balistik versi terbaru sebagai bentuk pembalasan di kawasan Teluk. ***