NusantaraMerdeka.id - Istilah londo ireng kembali menjadi perhatian setelah Presiden Prabowo Subianto menggunakannya dalam pidato Harlah ke-28 PKB di JCC, Jakarta, 23 Juli 2026. Istilah dalam bahasa Jawa itu secara harfiah berarti “Belanda Hitam”, tetapi sejarah penggunaannya ternyata lebih kompleks daripada sekadar sebutan bagi orang yang dianggap berpihak kepada Belanda.
Dalam pidatonya, Prabowo menyebut ada orang Indonesia yang menurutnya mengabdi kepada kepentingan bangsa lain. Ia kemudian mengatakan bahwa kelompok semacam itu dahulu disebut londo ireng dan kini menggunakan “baju lain”, termasuk menyebut wartawan, jurnalis, pengamat, dan LSM.
Londo Ireng Artinya Apa?
Secara bahasa, londo dalam bahasa Jawa merujuk pada Belanda atau orang Eropa, sedangkan ireng berarti hitam. Gabungan keduanya kemudian dikenal sebagai “Belanda Hitam”.
Dalam catatan sejarah yang dirujuk sejarawan Ineke van Kessel, istilah tersebut pada awalnya berkaitan dengan prajurit Afrika Barat yang direkrut pemerintah kolonial Belanda untuk menjadi bagian dari Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger atau KNIL. Dalam literatur Belanda, mereka dikenal sebagai Zwarte Hollanders atau Black Dutchmen.
Artinya, pemahaman bahwa londo ireng sejak awal merupakan sebutan untuk pribumi yang menjadi kaki tangan Belanda perlu dibedakan dari asal-usul historis istilah tersebut. Sumber-sumber sejarah yang merujuk penelitian van Kessel menempatkan tentara Afrika sebagai rujukan awal istilah itu.
Mengapa Tentara Afrika Disebut Londo Ireng?
Para prajurit tersebut direkrut dari Afrika Barat dan kemudian dikirim ke Hindia Belanda untuk memperkuat pasukan kolonial. Salah satu pusat perekrutan berada di Elmina, wilayah Pantai Emas yang kini menjadi bagian dari Ghana.
Catatan yang dihimpun dari penelitian van Kessel menyebut sekitar 3.000 prajurit Afrika direkrut antara 1831 dan 1872. Mereka mengenakan seragam militer Belanda dan bertugas dalam struktur KNIL, sehingga masyarakat setempat melihat mereka sebagai bagian dari kekuatan kolonial meskipun mereka bukan orang Belanda secara etnis.
Konteks perekrutan tersebut berkaitan dengan kebutuhan militer Belanda pada abad ke-19. Setelah Perang Jawa atau Perang Diponegoro 1825–1830, pemerintah kolonial membutuhkan tambahan personel untuk mempertahankan kekuasaannya di Hindia Belanda.
Para serdadu Afrika kemudian tidak hanya berada di satu wilayah. Catatan sejarah menyebut mereka diterjunkan dalam berbagai ekspedisi militer kolonial di sejumlah daerah, termasuk Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Timor, dan Aceh.
Dari Nama Pasukan Menjadi Label Politik
Seiring perubahan zaman, makna londo ireng berkembang. Istilah yang pada mulanya berkaitan dengan tentara Afrika dalam struktur kolonial kemudian digunakan secara lebih luas untuk menyebut pihak yang dianggap berpihak kepada kepentingan kolonial atau kekuatan asing.
Pergeseran makna tersebut membuat istilah londo ireng memiliki dua lapisan pengertian yang perlu dibedakan. Pengertian pertama berkaitan dengan sejarah tentara Afrika yang direkrut Belanda, sedangkan pengertian berikutnya berkembang sebagai metafora sosial dan politik untuk menggambarkan orang yang dianggap lebih membela kepentingan asing.
The Jakarta Post juga menggunakan pengertian historis yang berbeda nuansa, yakni menyebut londo ireng sebagai istilah yang secara historis merujuk pada pribumi yang dituduh bekerja sama dengan pasukan kolonial Belanda selama perjuangan kemerdekaan. Ini menunjukkan bahwa penggunaan istilah tersebut dalam sumber populer memang tidak selalu seragam.
Perbedaan itu penting karena label yang sama dapat merujuk pada kelompok sejarah tertentu atau digunakan sebagai kiasan untuk tuduhan keberpihakan kepada kekuatan asing. Tanpa melihat konteks penggunaannya, pembaca dapat mencampuradukkan sejarah kelompok tentara Afrika dengan perkembangan makna politik istilah tersebut.
Londo Ireng dan Pidato Prabowo
Dalam pidato pada 23 Juli 2026, Prabowo menggunakan londo ireng bukan untuk membahas sejarah tentara Afrika secara akademis, melainkan sebagai istilah untuk menggambarkan pihak yang menurutnya mengabdi kepada bangsa lain. Ia kemudian mengaitkan “baju lain” tersebut dengan wartawan, jurnalis, pengamat, dan LSM.
Konteks tersebut membuat makna yang digunakan dalam pidato berada pada lapisan metaforis, bukan sekadar arti harfiahnya sebagai “Belanda Hitam”. Karena itu, memahami asal-usul istilah menjadi penting untuk melihat bagaimana sebuah istilah sejarah dapat memperoleh makna baru dalam percakapan politik masa kini.
Sejumlah pihak kemudian memperdebatkan penggunaan istilah tersebut. Amnesty International Indonesia dan organisasi pers menilai istilah itu memiliki konotasi negatif, sementara sejumlah pengamat menekankan bahwa makna dan tafsirnya bergantung pada konteks penggunaannya.
Yang relatif jelas dari catatan sejarah adalah bahwa asal-usul londo ireng tidak sesederhana “orang Indonesia yang berkhianat kepada bangsa sendiri”. Penelitian tentang Zwarte Hollanders menunjukkan adanya sejarah panjang tentara Afrika yang direkrut Belanda dan ditempatkan dalam struktur militer kolonial di Hindia Belanda.
Jejak kelompok tersebut bahkan masih dapat ditemukan dalam sejarah lokal, salah satunya di Purworejo, Jawa Tengah, yang memiliki kawasan yang dikenal sebagai Kampung Afrikan dan menyimpan sejumlah peninggalan terkait keberadaan tentara Afrika pada masa kolonial.