NusantaraMerdeka.id - India menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS pada 12–13 September 2026 di tengah tekanan geopolitik yang menguji kekompakan blok Global South tersebut. Pertemuan ini berlangsung setelah perang Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran memunculkan perbedaan sikap di antara negara-negara anggota BRICS.
Presiden Rusia Vladimir Putin telah tiba di New Delhi pada Jumat pagi, 11 September 2026, menjelang pelaksanaan KTT. Pertemuan para pemimpin BRICS kali ini menjadi penting karena Iran, yang bergabung sebagai anggota pada 2024, berada langsung dalam pusaran konflik dengan AS dan Israel.
KTT BRICS Berlangsung Saat Anggota Terbelah soal Iran
BRICS dibentuk untuk memperkuat posisi negara-negara Global South dan menawarkan ruang kerja sama di luar dominasi Barat. Namun, perluasan keanggotaan justru membuat kepentingan politik di dalam blok semakin beragam.
Perbedaan itu terlihat dalam pertemuan menteri luar negeri BRICS pada Mei 2026. Pertemuan tersebut berakhir tanpa pernyataan bersama setelah Iran meminta tindakan AS dan Israel dikecam secara terbuka, sementara Uni Emirat Arab (UEA) menolak usulan tersebut.
Kegagalan menghasilkan pernyataan bersama menjadi gambaran nyata bahwa BRICS tidak memiliki sikap politik tunggal ketika menghadapi konflik geopolitik. Negara-negara anggotanya tetap mempertahankan kebebasan untuk menentukan kebijakan luar negeri masing-masing.
Analis Geopolitik Guy Burton menilai tidak ada komitmen pertahanan kolektif di dalam BRICS. "Tidak ada logika 'satu untuk semua, semua untuk satu' di BRICS. Para anggota sengaja mempertahankan kebebasan mereka untuk bertindak secara independen, yang merupakan kebalikan dari blok yang terkoordinasi," ujarnya.
Perluasan Anggota Membuat BRICS Semakin Beragam
Iran masuk BRICS pada 2024 bersama Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Mesir, Etiopia, dan Indonesia. Penambahan negara-negara tersebut memperbesar jangkauan ekonomi dan politik BRICS, tetapi sekaligus membawa kepentingan nasional yang semakin beragam.
Di satu sisi, keberadaan produsen minyak besar membuat pengaruh BRICS di pasar energi global semakin kuat. Di sisi lain, perbedaan kepentingan antaranggota membuat kelompok tersebut tidak mudah mengambil sikap bersama dalam isu politik yang sensitif.
Kondisi itu menjadi tantangan tersendiri bagi KTT BRICS di India. Ketika perang Iran melibatkan AS dan Israel, anggota BRICS harus mempertahankan kerja sama kelompok tanpa mengorbankan kepentingan dan posisi masing-masing.
BRICS Tetap Punya Pengaruh Ekonomi Besar
Meski menghadapi perbedaan geopolitik, BRICS tetap memiliki bobot ekonomi yang besar. Blok yang kini beranggotakan 11 negara itu mewakili hampir separuh populasi dunia, sekitar 40 persen output global, 44 persen produksi minyak dunia, dan sekitar seperempat perdagangan dunia.
Angka tersebut membuat BRICS tetap menjadi platform penting bagi negara-negara Global South untuk memperluas kerja sama ekonomi. Proyeksi pertumbuhan BRICS sebesar 3,7 persen tahun ini juga disebut jauh di atas pertumbuhan G7 yang berada di sekitar 1 persen.
Namun, besarnya ukuran ekonomi belum otomatis membuat BRICS mampu bergerak sebagai satu kekuatan yang solid. Ketergantungan terhadap dolar AS masih menjadi salah satu kelemahan struktural yang membatasi ambisi kelompok tersebut untuk membangun alternatif terhadap sistem ekonomi yang dipimpin Barat.
Di tengah persoalan itu, KTT BRICS di New Delhi menjadi ruang bagi para pemimpin negara anggota untuk mempertahankan kerja sama sekaligus menghadapi perbedaan yang semakin terlihat. Pertemuan berlangsung pada 12–13 September 2026 ketika konflik Iran dan perbedaan sikap antaranggota masih menjadi salah satu ujian terbesar bagi kohesi BRICS.