nusantaramerdeka.id — Warga Thoriqoh Shiddiqiyyah menegaskan bahwa pemisahan antara ibadah ritual dan kepekaan sosial di Indonesia merupakan kegagalan strategis dalam beragama yang mereduksi esensi kemanusiaan. Fenomena kesalehan personal yang terjebak dalam ruang hampa ini harus diakhiri dengan aksi nyata yang berdampak langsung pada problem rakyat kecil di lapangan, bukan sekadar rutinitas zikir yang mengasingkan penderitaan sesama.
Ketegasan ini didasari pada realitas bahwa agama seharusnya menjadi solusi konkret bagi persoalan bangsa. Ketika sajadah terpisah dari realitas sosial, spiritualitas dianggap kehilangan taring dan daya tawar sosialnya. Ibadah sejati wajib melahirkan karakter yang bermanfaat bagi semesta. Tanpa buah kemanusiaan, intensitas ibadah hanya akan menjadi rutinitas kosong yang tidak memiliki nilai tawar di hadapan Tuhan maupun manusia.
Kemandirian Ekonomi Tanpa Intervensi Politik
Dalam implementasinya, Thoriqoh Shiddiqiyyah melalui organisasi DHIBRA menunjukkan kemandirian sipil yang luar biasa. Selama 25 tahun sejak 2001, mereka telah menyalurkan dana sebesar Rp51,2 miliar tanpa sepeser pun bantuan dari pemerintah, partai politik, atau lembaga internasional. Dana tersebut murni berasal dari shodaqoh jamaah yang dikelola secara mandiri untuk mengentaskan kemiskinan tanpa hambatan birokrasi.
Keberanian ini terlihat jelas dalam program Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia. Hingga saat ini, lebih dari 1.600 unit rumah permanen telah dibangun dari nol dengan standar kualitas tinggi. Program ini dijalankan dengan semangat patriotisme yang murni, membuktikan bahwa kemandirian ekonomi umat adalah kunci kedaulatan bangsa. Kualitas bangunan yang dijaga ketat bertujuan untuk menjaga martabat para penerima bantuan.
Menembus Batas Sektarian demi Kemanusiaan
Al-Halats Muhidin, salah satu warga Thoriqoh Shiddiqiyyah, dalam pernyataannya baru-baru ini menekankan pentingnya korelasi antara zikir dan aksi.
“Rajin ibadah tapi kita tidak peduli kepada sesama, maka ibadah itu tidak ada buahnya,” tegas Muhidin. Pernyataan ini menjadi pengingat keras bagi para praktisi spiritual agar tidak terjebak dalam kesalehan individu yang egois.
Kemanusiaan Shiddiqiyyah pun tidak mengenal batas agama. Di Bali, mereka membangun rumah untuk keluarga Hindu, membuktikan bahwa iman tidak boleh tersekat oleh urusan sektarian. Langkah ini menunjukkan bahwa tasawuf Nusantara harus progresif dan membumi.
Di pengujung Ramadan nanti, tantangan sesungguhnya bukan hanya soal khatam Al-Quran, melainkan sejauh mana umat mampu “khatam” dalam berbagi kepada mereka yang membutuhkan. ***