Hiburan

MUI Kecam Promosi Miras Berkedok Tantangan Hafalan Alquran

Sponsor Miras Challenge Hapalan Surat di acara The Sounds Project
Sponsor Miras Challenge Hapalan Surat di acara The Sounds Project

NusantaraMerdeka.id - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengecam keras promosi miras berkedok tantangan hafalan Alquran yang viral setelah muncul di salah satu booth sponsor festival musik The Sounds Project di Ancol, Jakarta Utara, Minggu (9/8/2026). MUI menilai penggunaan ayat suci Alquran untuk memperoleh hadiah minuman keras tidak dapat dibenarkan secara agama, moral, maupun hukum.

MUI Soroti Promosi Miras Berkedok Hafalan Alquran

Ketua MUI Bidang Fatwa Prof KH Asrorun Niam Sholeh mengatakan gimmick tersebut memadukan sesuatu yang disucikan dalam agama Islam dengan minuman yang diharamkan. Menurut dia, tindakan itu bukan sekadar persoalan pemasaran, tetapi menyentuh aspek penghormatan terhadap kesucian Alquran.

"Tindakan tersebut tidak bisa dibenarkan, baik secara keagamaan, moral etika, maupun secara hukum. Pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya," tegas Niam, Senin (10/8) malam, dikutip dari laman resmi MUI.

Guru Besar Ilmu Fikih UIN Jakarta itu menjelaskan, Alquran merupakan Kalamullah dan membacanya termasuk ibadah yang memiliki nilai tinggi. Karena itu, menjadikan hafalan ayat sebagai bagian dari promosi produk minuman keras dinilai merendahkan martabat agama.

"Membuat gimik membaca Alquran dengan iming-iming hadiah minuman keras adalah bentuk perendahan kesucian Alquran," lanjutnya.

Video Challenge Viral dari Festival The Sounds Project

Kontroversi tersebut bermula dari unggahan akun Threads @JARRKOJARR yang memperlihatkan sebuah booth produk miras di festival The Sounds Project. Dalam video itu, pengunjung disebut mendapat tantangan menghafal Surah Ad-Duha dengan imbalan yang diduga berupa sebotol minuman keras.

Festival The Sounds Project berlangsung selama tiga hari, 7-9 Agustus 2026, di Ancol, Jakarta Utara. Video tersebut kemudian memicu kritik publik karena praktik promosi itu dinilai tidak pantas mencampurkan aktivitas yang berkaitan dengan ibadah dengan pemasaran minuman beralkohol.

Merespons polemik tersebut, penyelenggara The Sounds Project menyatakan kejadian memang berlangsung di salah satu booth sponsor pada Minggu (9/8), tetapi disebut berada di luar arahan, persetujuan, dan kendali penyelenggara.

Pihak penyelenggara juga menyatakan telah menegur sponsor terkait, meminta persoalan diselesaikan hingga tuntas, serta mengawal identifikasi pihak yang terlibat. Evaluasi internal turut dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang pada penyelenggaraan berikutnya.

Sementara itu, MC booth yang terlibat dalam kegiatan tersebut, Revnaldo Ega, menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Ia mengakui adanya kelalaian dalam mengendalikan situasi dan menyebut kejadian tersebut sebagai pembelajaran agar lebih sigap dan bertanggung jawab ke depannya.

"Saya Ega, selaku MC booth Newport pada Minggu, 9 Agustus 2026, memohon maaf atas kejadian yang terjadi saat acara berlangsung," kata Ega melalui akun Threads miliknya, dikutip Selasa (11/8).