nusantaramerdeka.id — Harga minyak dunia meroket tajam menembus level psikologis US$100 per barel pada Maret 2026 akibat eskalasi konflik militer di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Lonjakan ini memicu kekhawatiran hebat terhadap stabilitas ekonomi internasional. Penutupan Selat Hormuz menjadi ancaman nyata karena jalur tersebut mengangkut 30 persen pasokan minyak mentah global.
Pasar energi global saat ini sedang menghadapi ujian tekanan terbesar dalam satu dekade terakhir. Berdasarkan data real-time per 26 Maret 2026, harga Brent Crude bertahan di posisi US$102,83 per barel, naik lebih dari 50 persen hanya dalam satu bulan.
Ancaman Resesi Global dan Peringatan BlackRock
CEO BlackRock, Larry Fink, memberikan peringatan keras mengenai dampak kenaikan harga energi yang tidak terkendali. Ia menyebut angka kritis yang bisa meruntuhkan ekonomi dunia.
“Jika harga minyak mencapai US$150 per barel, dunia akan menghadapi resesi global yang tajam dan curam dengan implikasi ekonomi yang mendalam,” tegas Larry Fink dalam pernyataannya pada Maret 2026.
Kondisi ini diprediksi akan menciptakan tahun-tahun kegelapan ekonomi jika harga bertahan di level tinggi. Goldman Sachs bahkan telah menaikkan probabilitas resesi menjadi 30 persen akibat guncangan suplai ini.
Dampak Fatal bagi Ketahanan Fiskal Indonesia
Indonesia sebagai negara importir neto minyak mentah berada dalam posisi yang sangat rentan. Kenaikan harga ini dipastikan akan memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 secara signifikan.
Setiap kenaikan harga minyak sebesar US$1 per barel memberikan tekanan netto pada defisit fiskal sebesar Rp6,8 triliun. Angka ini muncul karena beban subsidi dan kompensasi energi melonjak lebih tinggi daripada penerimaan negara.
Pemerintah kini terjepit dalam dilema kebijakan antara mempertahankan subsidi atau membiarkan inflasi melambung tinggi. Jika harga terus merangkak naik, batas aman defisit 3 persen terhadap PDB terancam terlampaui.
Stabilitas makroekonomi nasional kini bergantung pada seberapa lama konflik di Timur Tengah berlangsung. Langkah intervensi pasar dan efisiensi belanja negara menjadi harga mati untuk menghindari kebangkrutan fiskal di tengah ketidakpastian global. ***