Dokter Internship Wafat, Kemenkes Temukan Praktik Kerja Paksa di Jambi

Pemakaman Dr Myta Aprilia Azmy

nusantaramerdeka.id — Investigasi Kementerian Kesehatan mengungkap praktik kerja paksa yang merenggut nyawa dr. Myta Aprilia Azmy, dokter internship di RSUD KH Daud Arief, Jambi, pada Jumat (1/5/2026).

Dokter berusia 25 tahun ini dinyatakan meninggal dunia akibat infeksi paru berat setelah dipaksa tetap bertugas di IGD meski kondisinya sudah sangat kritis.

Kemenkes menemukan indikasi pelanggaran berat berupa beban kerja ekstrem yang jauh melampaui batas maksimal 40 jam per minggu selama periode penugasannya.

“Tidak boleh ada dokter yang wafat karena adanya budaya kerja yang tidak baik yang dilakukan di rumah sakit,” tegas Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada 7 Mei 2026.

Fakta memilukan terungkap bahwa dokter pendamping diduga memanipulasi presensi kehadiran agar seolah-olah jadwal kerja dr. Myta sesuai dengan regulasi resmi pemerintah.

Beban kerja peserta internship sengaja dipadatkan, sementara sejumlah oknum dokter organik di rumah sakit tersebut justru absen dan melimpahkan seluruh tanggung jawab medis kepada peserta magang.

Dokter organik dilaporkan sering meninggalkan ruang jaga untuk beristirahat atau makan di kantin, meninggalkan dokter muda menangani pasien gawat darurat sendirian tanpa supervisi.

Baca Juga :  Tragedi Longsor Bantargebang: 6 Tewas Akibat Gunungan Sampah 50 Meter

“Terdapat indikasi kelebihan jam kerja. Dokter MMA selama periode Februari–April bertugas di UGD dengan jam kerja melebihi ketentuan,” ungkap Plt Irjen Kemenkes, Rudi Supriatna Nata Saputra.

Keberanian para dokter muda untuk menyuarakan ketidakadilan lewat media sosial justru direspons dengan tindakan intimidatif oleh pihak rumah sakit pada akhir Maret lalu.

Bukannya perbaikan sistem, para peserta internship malah dikumpulkan untuk dikonfrontasi secara langsung, yang menciptakan budaya bungkam di lingkungan fasilitas kesehatan tersebut.

Dr Myta Aprilia Azmy
Alm Dr Myta Aprilia Azmy

Bahkan saat dr. Myta dalam kondisi kritis dengan saturasi oksigen menyentuh 80 persen, ia dievakuasi menggunakan kendaraan pribadi tanpa fasilitas ambulans standar medis.

Lebih tragis lagi, saat menjalani perawatan sebagai pasien, dr. Myta sempat diminta mencari obat antibiotik sendiri ke luar rumah sakit karena stok fasilitas tidak tersedia.

Tragedi ini menjadi alarm keras bagi sistem pendidikan kedokteran Indonesia yang kerap memperlakukan dokter internship sebagai tenaga kerja murah berupah rendah.

“Wahana ini kita freeze, untuk sementara tidak menjadi wahana sampai nanti hasil investigasi keseluruhan keluar,” ujar Dirjen SDM Kesehatan, Yuli Farianti.

Baca Juga :  Krisis Ojol Jakarta: Warga Telat Buka Puasa Akibat Kelangkaan Driver

Negara harus bertanggung jawab penuh atas hilangnya nyawa pejuang kesehatan ini dan memastikan reformasi struktural dilakukan tanpa kompromi demi keselamatan dokter masa depan. ***