Daerah

Prabowo Perkenalkan “Jas Hijau” di Muktamar NU, Jangan Lupakan Jasa Ulama

Prabowo sungkem menyalami Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri KH Nurul Huda Djazuli. - dok BPMI Setpres
Prabowo sungkem menyalami Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri KH Nurul Huda Djazuli. - dok BPMI Setpres

Jombang, NusantaraMerdeka.id - Presiden RI Prabowo Subianto memperkenalkan istilah “Jas Hijau” saat membuka Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis (28/8/2026). Istilah itu dimaknai Prabowo sebagai pesan agar bangsa Indonesia tidak melupakan jasa para ulama dalam perjalanan sejarah dan perjuangan kemerdekaan.

Dalam pidatonya, Prabowo mengatakan istilah “Jas Hijau” terinspirasi dari ungkapan “Jas Merah” yang dikaitkan dengan Presiden Soekarno. Jika Jas Merah berarti “jangan sekali-kali melupakan sejarah”, Prabowo menyampaikan pesan berbeda yang ditujukan untuk mengingat kontribusi ulama.

Prabowo Sampaikan Pesan “Jas Hijau” di Muktamar NU

"Kalau tidak salah Bung Karno ya mengatakan Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah, saya ingin menyampaikan Jas Hijau, jangan sekali-kali melupakan jasa ulama," kata Prabowo dalam pidatonya.

Pernyataan itu disampaikan di hadapan para kiai, ulama, dan warga Nahdliyyin yang menghadiri Muktamar ke-35 NU. Prabowo menilai penghormatan terhadap ulama tidak bisa dilepaskan dari perjalanan bangsa Indonesia.

Menurut Prabowo, para ulama, kiai, dan pesantren memiliki peran besar dalam perjuangan kemerdekaan. Karena itu, sejarah perjuangan Indonesia dinilai tidak cukup dipahami hanya dari peristiwa politik di tingkat nasional.

Peran Ulama dalam Pertempuran Surabaya

Prabowo kemudian mengaitkan peran ulama dengan pertempuran di Surabaya pada Oktober-November 1945. Ia menilai momentum tersebut menjadi salah satu fase penting ketika kemerdekaan Indonesia diuji setelah proklamasi.

"Memang diproklamasikan di Jakarta tapi kemerdekaan bangsa Indonesia diuji di Surabaya dan dalam pertempuran Surabaya Oktober-November tahun 1945 peran dari ulama peran dari kiai-kiai peran dari pesantren sangat besar saudara-saudara," ujar Prabowo.

Pesan tersebut sekaligus menjadi bagian dari penghormatan Prabowo kepada kalangan ulama yang hadir dalam pembukaan Muktamar NU. Ia menyampaikan terima kasih kepada para ulama di Indonesia atas kontribusi mereka terhadap perjalanan bangsa.

Prabowo juga menyinggung lagu mars NU, Syubbanul Wathon, yang menurutnya memiliki semangat cinta Tanah Air yang kuat. Ia menyoroti pencipta lagu tersebut, KH Abdul Wahab Hasbullah, yang disebut telah menciptakannya belasan tahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Prabowo Sebut NU dan Muhammadiyah Aset Bangsa

Dalam pidato yang sama, Prabowo menempatkan NU dan Muhammadiyah sebagai organisasi yang memiliki posisi penting bagi Indonesia. Ia bahkan mengatakan dirinya tidak mungkin menjadi presiden tanpa keberadaan kedua organisasi tersebut.

Prabowo menyatakan akan terus berpikir dan berupaya membesarkan NU serta Muhammadiyah. Pernyataan itu menunjukkan pentingnya hubungan pemerintah dengan dua organisasi Islam besar tersebut dalam pandangan Presiden.

"Kalau bangsa ini mau bangkit dan mau aman, pemerintah, umaro harus selalu dekat dengan Nahdlatul Ulama dan juga Muhammadiyah," kata Prabowo.

Ia menilai NU selama ini selalu hadir dalam berbagai kejadian dan masa krisis yang dihadapi bangsa Indonesia. Menurut Prabowo, kontribusi tersebut berkaitan erat dengan stabilitas, keamanan, perdamaian, dan masa depan Indonesia.

"Nahdlatul Ulama selalu hadir dan Nahdlatul Ulama yang menentukan stabilitas keamanan perdamaian dan masa depan bangsa Indonesia," lanjutnya.

Muktamar ke-35 NU sendiri digelar di Ponpes Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, mulai Kamis (28/8/2026). Forum lima tahunan ini menjadi momentum untuk menentukan kepemimpinan Pengurus Besar NU periode 2026-2030 sekaligus membahas berbagai persoalan hukum Islam kontemporer di tengah warga Nahdliyyin.