nusantaramerdeka.id — BINLAT Karakter Jati Diri Bangsa di Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok Kediri menguji pendekatan pendidikan karakter berbasis metode rasa, neuro-pedagogi, dan pembelajaran berbasis pengalaman untuk menjawab kelemahan pendidikan konvensional, terutama pada aspek kesadaran batin peserta didik.
Program pelatihan ini dirancang oleh Yayasan Persada Soekarno Ndalem Pojok Kediri dan dilaksanakan sepanjang 2025–2026. Ketua Harian Yayasan Persada Soekarno, Kushartono, menyebut BINLAT dikembangkan sebagai respons atas pendidikan karakter yang dinilai terlalu menekankan aspek kognitif.
“Pendidikan kita terlalu lama berhenti di kepala. BINLAT ini kami rancang agar nilai kebangsaan itu masuk ke rasa, lalu menjadi kehendak dan tindakan,” ujar Kushartono di Kediri, Sabtu (11/1/2026).
Metode Rasa Jadi Inti Pelatihan
Kushartono menjelaskan, metode utama BINLAT bertumpu pada kerangka Rasa, Cipta, dan Karsa yang berkembang dalam tradisi tasawuf Nusantara. Pendekatan ini digunakan untuk menumbuhkan kesadaran personal peserta terhadap nilai kebangsaan.
“Kami ingin peserta tidak hanya tahu sejarah, tetapi merasakannya. Dari rasa itu muncul kejernihan batin dan tekad untuk berbuat bagi bangsa,” katanya.

Neuro-Pedagogi dan Pengalaman Langsung
Metode rasa dipadukan dengan pendekatan neuro-pedagogi berbasis cara kerja otak. Lingkungan belajar dirancang aman dan minim tekanan psikologis agar proses internalisasi nilai berlangsung optimal.
“Ketika emosi stabil, otak depan terbuka. Di situ nilai karakter bisa masuk dan bertahan lama,” ujar Kushartono.
Selain itu, peserta dilibatkan dalam aktivitas lapangan, diskusi, refleksi, serta simulasi peran. Teknik Neuro-Linguistic Programming (NLP) digunakan untuk memperkuat kepercayaan diri dan pola pikir positif.
Situs Sejarah sebagai Media Belajar
Situs Persada Soekarno dimanfaatkan sebagai ruang belajar kontekstual melalui pendekatan genius loci. Peserta diajak memahami sejarah sebagai pengalaman hidup, bukan sekadar narasi buku.
“Belajar di tempat ini berbeda. Ada energi sejarah yang kami jadikan media pembelajaran,” kata Kushartono.
Tahap akhir BINLAT difokuskan pada refleksi dan penguncian nilai agar pengalaman belajar melekat sebagai karakter. Program ini didampingi instruktur bersertifikasi BNSP dan menjadi model uji coba pendidikan karakter terpadu.***