nusantaramerdeka.id — BMKG memprediksi kondisi iklim di hampir seluruh wilayah Indonesia pada 2026 berada dalam kategori normal. Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan karena fenomena La Niña lemah diperkirakan masih aktif pada awal tahun dan berpotensi meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan bahwa Informasi Pandangan Iklim (Climate Outlook) 2026 disusun melalui analisis dinamika atmosfer–laut global, perhitungan fisis, serta pemodelan berbasis kecerdasan buatan. Paparan tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Gedung D Command Center MHEWS BMKG, Jakarta Pusat, Selasa (23/12/2025).
“Pandangan Iklim 2026 diharapkan menjadi panduan umum dalam perencanaan, mitigasi, dan pengambilan kebijakan di sektor-sektor terdampak iklim,” ujar Faisal.
La Niña Awal Tahun
BMKG mencatat pada November 2025, suhu permukaan laut Samudra Pasifik menunjukkan La Niña lemah dengan indeks ENSO -0,77. Fenomena ini diperkirakan berlanjut hingga Januari–Februari 2026, lalu melemah menuju fase Netral pada Maret–April–Mei dan bertahan hingga akhir tahun. Di Samudra Hindia, Indian Ocean Dipole diproyeksikan Netral sepanjang 2026.
Curah Hujan dan Suhu
Sekitar 94,7 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami curah hujan tahunan kategori Normal (1.500–4.000 mm). Wilayah dengan potensi hujan tinggi mencakup Sumatra, Kalimantan, Sulawesi tengah–selatan, Maluku, dan Papua. Namun, hari tanpa hujan berkepanjangan tetap berpotensi terjadi di Bali, NTB, dan NTT.
Suhu rata-rata tahunan diperkirakan 25–29°C. Dataran rendah berpotensi di atas 28°C, sementara wilayah pegunungan berada pada kisaran 19–22°C. Secara umum, suhu 2026 diprediksi lebih hangat 0,2–0,6°C dibanding periode normal 1991–2020.
Risiko dan Rekomendasi
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengingatkan La Niña lemah di musim hujan meningkatkan potensi banjir dan longsor, sementara kemarau berisiko karhutla. BMKG mendorong pemanfaatan informasi iklim untuk pertanian, sumber daya air, dan energi, serta memastikan pembaruan produk iklim secara berkala melalui kanal resmi.***