NusantaraMerdeka.id – Ekspansi bisnis Andi Syamsudin Arsyad atau Haji Isam semakin melebar di pasar modal setelah PT Jhonlin Baratama meneken perjanjian jual beli saham bersyarat untuk mengambil 10 miliar saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Jika seluruh syarat pendahuluan terpenuhi, transaksi tersebut akan membuat kelompok usaha Haji Isam menguasai sekitar 30 persen saham perusahaan batu bara milik Low Tuck Kwong dan Elaine Low.
Kesepakatan tersebut ditandatangani pada 16 September 2026 dan diumumkan Bayan Resources sehari kemudian. Nilai transaksi belum diungkapkan, sementara penyelesaiannya masih bergantung pada pemenuhan sejumlah kondisi yang disepakati kedua pihak.
Haji Isam Perluas Portofolio ke BYAN
Masuknya Haji Isam ke BYAN menjadi langkah besar dalam memperlebar portofolio bisnisnya di sektor batu bara. Sebanyak 10.000.000.500 saham akan dialihkan dari Low Tuck Kwong dan Elaine Low kepada PT Jhonlin Baratama, setara sekitar 30 persen dari total 33,33 miliar saham BYAN.
Sebelum transaksi tersebut, Low Tuck Kwong dan Elaine Low secara gabungan memegang lebih dari 60 persen saham Bayan Resources. Pengalihan sebagian saham mereka membuat struktur kepemilikan BYAN berpotensi berubah secara signifikan setelah seluruh persyaratan transaksi terpenuhi.
Yang perlu dicatat, transaksi ini belum berarti Haji Isam telah mengambil alih kendali BYAN. Perjanjian yang diumumkan merupakan Conditional Sale and Purchase of Shares Agreement, sehingga penyelesaian transaksi masih menunggu terpenuhinya kondisi pendahuluan.
Pergerakan saham BYAN ikut menjadi perhatian pasar. Pada perdagangan Jumat (18/9/2026), saham BYAN melonjak 19,96 persen ke Rp13.825 per saham dan menyentuh batas auto rejection atas (ARA).
Masuk Nikel Lewat PACK
Ekspansi Haji Isam di pasar modal tidak dimulai dari BYAN. Beberapa bulan sebelumnya, ia masuk ke bisnis nikel melalui PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK).
Pada 13 Mei 2026, Haji Isam membeli 6,83 miliar saham PACK dengan harga Rp137 per saham. Transaksi senilai sekitar Rp936,65 miliar itu membuat kepemilikannya mencapai 21,12 persen, dari sebelumnya tidak memiliki saham perusahaan tersebut.
Langkah tersebut memperluas bisnis Haji Isam ke komoditas nikel, sementara basis usaha Jhonlin selama ini dikenal mencakup batu bara, perkebunan kelapa sawit dan logistik. Dengan masuknya PACK, portofolionya di sektor sumber daya alam menjadi semakin beragam.
Pergerakan saham PACK juga mencolok dalam data per 18 September 2026. Saham tersebut berada di level Rp565 per saham dengan kapitalisasi pasar Rp19,27 triliun, naik 46,37 persen dalam sebulan dan melonjak 208,44 persen secara year to date.
JARR Jadi Salah Satu Basis Bisnis Sawit
Di sektor perkebunan kelapa sawit, Haji Isam memiliki keterkaitan dengan PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR). Pada 18 September 2026, saham JARR berada di level Rp3.600 per saham dengan kapitalisasi pasar Rp33,23 triliun.
Dalam periode sebulan, saham JARR naik 17,26 persen, sedangkan secara year to date menguat 11,46 persen. Pergerakan tersebut menempatkan JARR sebagai salah satu emiten yang turut berada dalam jaringan bisnis Haji Isam di pasar modal.
Selain JARR, kepemilikan dan keterkaitan bisnis keluarga Haji Isam juga muncul di PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN). Perusahaan tersebut memiliki keterkaitan dengan PT Araya Agro Lestari dan PT Citra Agro Raya, dengan kepemilikan yang terkait dengan dua anak Haji Isam, Jhony Saputra dan Liana Saputri.
Masuk Bisnis Makanan Lewat FAST
Portofolio Haji Isam tidak hanya bergerak di sektor komoditas. Pada 2025, ekspansinya merambah bisnis makanan melalui PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), pengelola jaringan KFC Indonesia.
FAST menjual 15 persen saham PT Jagonya Ayam Indonesia (JAI) kepada PT Shankara Fortuna Nusantara (SFN). Transaksi pembelian 41.877 saham Seri A JAI senilai Rp54,44 miliar tersebut efektif pada 30 Juni 2025.
SFN merupakan perusahaan yang dimiliki putri Haji Isam, Liana Saputri, dengan kepemilikan 45 persen. Pada saat transaksi, FAST menyebut aksi tersebut sebagai bagian dari strategi untuk memperkuat struktur pendanaan serta mendukung ekspansi dan operasional JAI.
Dengan demikian, ekspansi keluarga Haji Isam di pasar modal tidak hanya terkait perusahaan tambang atau perkebunan. Kepemilikan melalui entitas keluarga juga masuk ke bisnis makanan yang memiliki jaringan konsumen luas.
Portofolio Haji Isam Menyentuh Logistik hingga RANS
Di sektor lainnya, Haji Isam memiliki saham PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE) melalui PT Dua Samudera Perkasa. Ia tercatat memiliki 49 persen saham perusahaan tersebut.
Pergerakan TEBE pada 18 September 2026 berada di level Rp2.080 per saham dengan kapitalisasi pasar Rp2,67 triliun. Sahamnya naik 18,86 persen dalam sebulan, meski secara year to date masih turun 20,31 persen.
Nama Haji Isam juga muncul dalam struktur pemegang saham PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS), perusahaan milik pasangan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina. Haji Isam tercatat memiliki 1,40 persen saham RANS atau sekitar 176,47 juta saham.
Keterlibatan tersebut terlihat ketika Haji Isam hadir dalam acara penawaran umum perdana saham atau initial public offering RANS di Bursa Efek Indonesia pada Juli 2026. Raffi Ahmad ketika itu menyebut Haji Isam sebagai salah satu investor yang memiliki saham lebih dari 1 persen di RANS.
Kedekatan keduanya juga sudah beberapa kali terlihat di luar aktivitas pasar modal. Raffi pernah menghadiri perayaan ulang tahun Haji Isam di Kalimantan, sementara keduanya juga pernah terlihat berburu bersama dan berkolaborasi dalam proyek yang berkaitan dengan ketahanan pangan.
Dari Batu Bara ke Banyak Sektor
Jika ditarik dari sejumlah perusahaan tersebut, ekspansi bisnis Haji Isam memperlihatkan penyebaran portofolio ke beberapa sektor sekaligus. Batu bara tetap menjadi bagian penting melalui rencana masuknya Jhonlin Baratama ke BYAN, sementara nikel, sawit, makanan, logistik dan hiburan juga masuk dalam jaringan investasi yang disebut dalam data perusahaan.
| Kode | Perusahaan | Harga 18 September 2026 | Kapitalisasi Pasar | Pergerakan 1 Bulan | YTD |
|---|---|---|---|---|---|
| BYAN | PT Bayan Resources Tbk | Rp13.825 | Rp460,82 triliun | Turun 11,38% | Turun 11,94% |
| JARR | PT Jhonlin Agro Raya Tbk | Rp3.600 | Rp33,23 triliun | Naik 17,26% | Naik 11,46% |
| PACK | PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk | Rp565 | Rp19,27 triliun | Naik 46,37% | Naik 208,44% |
| FAST | PT Fast Food Indonesia Tbk | Rp426 | Rp1,93 triliun | Turun 9,75% | Turun 27,18% |
| PGUN | PT Pradiksi Gunatama Tbk | Rp9.525 | Rp54,65 triliun | Turun 0,26% | Turun 2,56% |
| TEBE | PT Dana Brata Luhur Tbk | Rp2.080 | Rp2,67 triliun | Naik 18,86% | Turun 20,31% |
| RANS | PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk | Rp197 | Rp2,48 triliun | Turun 1,50% | – |
Data tersebut menunjukkan bahwa kinerja emiten yang terkait dengan portofolio Haji Isam tidak bergerak seragam. Ada saham yang mencatat penguatan tajam sepanjang tahun, seperti PACK, tetapi ada pula yang masih mencatat penurunan secara year to date, seperti BYAN, FAST, PGUN dan TEBE.
Untuk BYAN sendiri, langkah terbaru Haji Isam masih menunggu penyelesaian kondisi pendahuluan dalam perjanjian. Setelah seluruh syarat terpenuhi, PT Jhonlin Baratama akan memiliki 10.000.000.500 saham atau sekitar 30 persen dari total saham Bayan Resources.