NusantaraMerdeka.id – pagelaran teater Cara Menjadi Sederhana membawa pengalaman artistik Tasikmalaya menuju Festival Teater Dosen Indonesia 2026 di ISI Yogyakarta. Sebelum tampil di festival pada 26–28 Agustus 2026, karya tersebut lebih dulu dipentaskan dalam agenda apresiasi di Ngaos Art, Tasikmalaya, pada 21 Agustus.
Pementasan ini tidak sekadar menghadirkan kelucuan melalui situasi absurd tiga tokohnya, Mimi, Kido, dan Miqdam. Di balik persoalan sederhana tentang dua orang yang hendak makan tetapi terus menunggu sendok, karya tersebut menyodorkan pertanyaan tentang kebebasan manusia dalam menentukan tindakannya sendiri.
Pagelaran Teater Berawal dari Persoalan Sederhana
Dalam Cara Menjadi Sederhana, nasi sudah tersedia dan perut lapar, tetapi makan tidak kunjung dilakukan karena satu benda tidak ada: sendok. Persoalan kecil itu kemudian berkembang menjadi situasi absurd ketika tindakan yang semestinya mudah berubah menjadi persoalan prosedural.
Sendok akhirnya tidak hanya berfungsi sebagai benda di atas meja. Ketidakhadirannya menjadi metafora tentang manusia yang terus menunggu sesuatu dari luar dirinya sebelum berani mengambil tindakan.
Dr. Rahman Sabur menilai absurditas karya tersebut memperlihatkan manusia yang bukan kehilangan akal, melainkan terlalu patuh pada akal yang sudah dilembagakan.
“Mereka mengetahui bahwa makan itu sederhana, tetapi pengetahuan tersebut tidak lagi cukup untuk membuat mereka bertindak. Di situlah absurditas menemukan tragedinya: manusia masih memiliki kehendak, tetapi kehilangan keberanian untuk menggunakan kehendaknya.” ungkap Sabur.
Gagasan Filosofis Dibawa ke Pengalaman Sehari-hari
Arif, S.Pd., M.Sn., melihat kekuatan karya justru muncul karena gagasan filosofis tersebut tidak disampaikan melalui konsep yang rumit, melainkan melalui pengalaman sehari-hari.
Kesederhanaan dalam pertunjukan diposisikan sebagai persoalan eksistensial: manusia modern dapat kehilangan kebebasan bukan karena tidak memiliki pilihan, tetapi karena terlalu banyak sistem yang menentukan cara mereka memilih.
“Kesederhanaan di dalam karya ini bukan kategori estetika, melainkan problem eksistensial. Manusia modern tidak selalu menderita karena kekurangan pilihan, tetapi justru karena terlalu banyak sistem yang menentukan bagaimana ia harus memilih.” jelas Arif.
Pembacaan itu diperkuat praktisi teater Wit Jabo yang melihat ketidakhadiran sendok sebagai pusat dramaturgi. Benda yang tidak terlihat justru mengendalikan perilaku para tokoh di atas panggung.
“Sendok itu tidak ada, tetapi seluruh perilaku tokoh ditentukan oleh ketidakhadirannya. Secara teatrikal, ini menarik karena objek material berubah menjadi kekuatan imaterial.” terangnya.

Dari Tasikmalaya Menuju Festival Teater Dosen Indonesia
Setelah melalui ruang apresiasi di Ngaos Art, karya tersebut dipersiapkan untuk tampil di Festival Teater Dosen Indonesia 2026 yang berlangsung di ISI Yogyakarta pada 26–28 Agustus.
Perjalanan itu membuat Tasikmalaya tidak sekadar menjadi lokasi pementasan awal. Pengalaman artistik yang lahir dari kota tersebut ikut dibawa menuju ruang festival nasional, mempertemukan karya dengan lingkungan akademik dan praktisi teater dari berbagai daerah.
Moa Aziz membaca karya tersebut sebagai refleksi mengenai kebiasaan manusia menunda kehidupan. Menurutnya, manusia kerap menetapkan berbagai syarat sebelum merasa siap menjalani hidup.
“Kita semua memiliki sendok yang kita tunggu. Kita mengatakan akan hidup setelah sukses, setelah diakui, setelah keadaan membaik. Persoalannya, kehidupan tidak pernah benar-benar menunggu kita selesai mempersiapkan diri.” tuturnya.
Pembacaan tersebut membuat perjalanan karya ke festival tidak hanya berarti perpindahan lokasi pertunjukan. Ada gagasan yang ikut dibawa: bagaimana pengalaman manusia sehari-hari dapat menjadi bahan refleksi yang relevan ketika ditempatkan dalam ruang seni pertunjukan.
Kritik Sosial Dibawa Tanpa Slogan
Lapisan lain muncul melalui pembacaan Aris Sehat Tentrem yang melihat dimensi sosial-politik karya tersebut. Kritik tidak disampaikan melalui slogan, tetapi melalui pertanyaan mengenai kemandirian manusia dalam menentukan tindakan.
“Nasionalisme dalam karya ini hadir sebagai etika keberanian. Bangsa yang dewasa bukan bangsa yang memiliki aturan paling banyak, melainkan bangsa yang mampu membedakan mana aturan yang menjaga kehidupan dan mana aturan yang justru membuat kehidupan berhenti.” ujarnya.
Dengan demikian, Cara Menjadi Sederhana tidak mengajak penonton meninggalkan aturan atau kembali ke kehidupan tanpa sistem. Pertunjukan justru mempertanyakan apa yang terjadi ketika prosedur yang semestinya membantu manusia berubah menjadi tujuan yang harus dipatuhi.
Gagasan tersebut membuat komedi dalam pertunjukan memiliki lapisan kegelisahan. Penonton dapat tertawa melihat tokoh yang tidak segera makan hanya karena tidak memiliki sendok, tetapi situasi itu sekaligus mengarah pada pertanyaan tentang berapa banyak keputusan dalam kehidupan yang sebenarnya terus ditunda.

Ekosistem Seni Tasikmalaya Ikut Menjadi Sorotan
Perjalanan karya ke panggung nasional juga membawa persoalan lain yang muncul saat pementasan di Ngaos Art. Pada 21 Agustus, perwakilan Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya maupun Pemerintah Kota Tasikmalaya disebut belum hadir secara langsung dalam agenda tersebut.
Kondisi itu tidak mengurangi nilai artistik pertunjukan, tetapi membuka pembicaraan mengenai dukungan terhadap ekosistem seni pertunjukan di daerah. Kehadiran, perhatian, ruang dialog, dan pengakuan dapat menjadi bagian dari dukungan kebudayaan selain anggaran.
Catatan tersebut menjadi menarik karena karya yang lahir dari Tasikmalaya justru sedang bergerak menuju ruang festival nasional. Perjalanan Cara Menjadi Sederhana menunjukkan bagaimana sebuah karya lokal dapat membawa pengalaman artistik kotanya ke panggung yang lebih luas.
Selanjutnya, Cara Menjadi Sederhana dijadwalkan tampil dalam Festival Teater Dosen Indonesia 2026 di ISI Yogyakarta pada 26–28 Agustus. Festival tersebut menjadi ruang berikutnya bagi karya untuk mempertemukan gagasan tentang absurditas, tubuh, prosedur, dan kebebasan manusia dengan penonton serta lingkungan teater yang lebih luas.