nusantaramerdeka.id — Nelayan di Kabupaten Pandeglang, Banten memilih tetap melaut mencari nafkah meski Badan Geologi Kementerian ESDM resmi menaikkan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda menjadi Level III atau Siaga.
Keputusan berani ini diambil di tengah bayang-bayang trauma tsunami silam demi menjaga asap dapur tetap mengepul. Urusan isi perut mengalahkan ketakutan terhadap ancaman erupsi.
Dilema Isi Perut di Tengah Ancaman Erupsi
Aktivitas vulkanik yang meningkat signifikan memaksa otoritas mengeluarkan larangan mendekat dalam radius 5 kilometer dari kawah aktif. Namun, kondisi paceklik yang melanda pesisir membuat para pelaut tidak memiliki banyak pilihan.
Wakil Ketua HNSI Ranting Labuan Jumami menegaskan bahwa nelayan sudah terbiasa dengan tabiat gunung api tersebut. Penurunan pendapatan akibat paceklik menjadi persoalan yang jauh lebih mendesak bagi mereka.
“Keluhan sementara justru lagi paceklik, itu yang sekarang dirasakan nelayan. Penurunannya sekitar 5 persen sampai hampir 10 persen,” ujar Jumami pada Minggu, 5 Juli 2026.
Trauma Tsunami dan Sikap Waspada Pesisir
Warga pesisir Pandeglang seperti di wilayah Labuan sebenarnya masih mengingat betul petaka komparatif yang terjadi beberapa tahun lalu. Kehati-hatian kini ditingkatkan tanpa harus menghentikan roda ekonomi harian secara total.
Pemerintah daerah melalui BPBD juga terus bersiap mengantisipasi segala kemungkinan buruk di lapangan. Sosialisasi jalur evakuasi mandiri mulai diintensifkan ke perangkat desa terdekat.
“Kami tetap tenang, namun tetap waspada, serta jangan sampai terulang kembali tsunami 2018 hingga ratusan orang meninggal dan ribuan orang mengungsi,” tegas Suherman, warga Labuan Pandeglang, Sabtu, 4 Juli 2026.
Keselamatan jiwa tetap menjadi prioritas utama yang harus berjalan beriringan dengan ketahanan ekonomi masyarakat bahari. Nelayan menuntut solusi konkret jika aktivitas pelayaran nantinya benar-benar dihentikan total. ***