nusantaramerdeka.id — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan defisit APBN hingga 31 Mei 2026 melesat tajam sebesar 763,2 persen secara tahunan hingga menyentuh angka Rp180,4 triliun atau setara 0,70 persen terhadap Produk Domestik Bruto.
Lonjakan drastis dari posisi defisit tahun lalu yang hanya Rp20,9 triliun ini dipicu oleh akselerasi belanja negara yang menembus Rp1.365,4 triliun. Pemerintah mengambil langkah berani memacu belanja di awal tahun demi pemerataan ekonomi.
Meskipun angka defisit membengkak ribuan persen, otoritas keuangan menegaskan postur fiskal negara masih berada dalam kondisi yang terkendali. Perbaikan kinerja penerimaan dari sektor pajak dan kepabeanan menjadi benteng pertahanan utama.
“Jadi APBN kita amat aman. Yang jelas, bisa kami kendalikan karena pajak dan bea cukai ada perbaikan yang signifikan,” ujar Purbaya Yudhi Sadewa di Aula Mezzanine Kemenkeu, Jakarta, Jumat, 5 Juni 2026.
Data Kementerian Keuangan menunjukkan total pendapatan negara hingga akhir Mei 2026 berhasil dikumpulkan sebesar Rp1.185 triliun. Realisasi tersebut mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 19,1 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.
Sektor perpajakan menjadi motor penggerak utama dengan menyumbang Rp834,4 triliun atau tumbuh melesat 22,1 persen. Sementara itu, sektor kepabeanan dan cukai akhirnya bangkit dari kontraksi kuartal I dengan membukukan Rp123,8 triliun.
Lonjakan belanja yang tumbuh hingga 34,4 persen berbanding lurus dengan realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak yang mencapai Rp226,4 triliun. Pertumbuhan dua digit pada sektor PNBP ini memperkuat kapasitas pembiayaan dalam negeri.
Catatan krusial pada APBN periode ini adalah posisi keseimbangan primer yang masih mencetak surplus sebesar Rp58,6 triliun. Kondisi ini membuktikan pemerintah tidak menambah utang baru untuk membayar bunga utang pada Mei 2026.***