Menteri Israel Bangga Siksa 9 Relawan Indonesia Di Pelabuhan Ashdod

nusantaramerdeka.id — Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir memicu kemarahan internasional setelah mengunggah video yang mempertontonkan penyiksaan terhadap ratusan relawan Global Sumud Flotilla di Pelabuhan Ashdod pada Rabu (20/5/2026). Sembilan warga negara Indonesia termasuk dua jurnalis Republika konfirmasi ikut ditangkap dan disiksa dalam penyergapan militer zionis tersebut.

Tindakan biadab ini sengaja dipamerkan ke publik oleh menteri sayap kanan Israel sebagai propaganda politik domestik mereka. Respon tegas langsung datang dari puluhan negara yang mengutuk keras aksi premanisme negara di perairan internasional tersebut.

Rekaman video yang diunggah secara sadar oleh Ben Gvir di platform X memperlihatkan para aktivis kemanusiaan dipaksa berlutut dengan tangan terikat kabel ties. Lagu kebangsaan Israel diputar dengan sengaja untuk merendahkan martabat para relawan asing yang berniat menyalurkan bantuan ke Gaza.

Ben Gvir bahkan hadir langsung di lokasi penahanan terbuka sambil tersenyum puas melihat para aktivis diperlakukan bak penjahat perang. Ia membiarkan seorang aktivis perempuan dijatuhkan secara kasar ke tanah oleh petugas keamanan karena meneriakkan seruan kemerdekaan Palestina.

Baca Juga :  Trump Serang Paus Leo XIV Terkait Kebijakan Perang Iran-Israel

Lembaga hak asasi manusia Israel Adalah membongkar fakta kekerasan fisik mematikan yang dialami para tahanan di barak militer. Tiga relawan dilarikan ke rumah sakit akibat luka serius sementara puluhan lainnya menderita patah tulang rusuk akibat sengatan listrik berulang.

Kementerian Luar Negeri RI mengeluarkan kecaman paling keras atas tindakan tidak manusiawi militer Israel terhadap warga negara Indonesia. “Tindakan militer Israel terhadap armada Global Sumud Flotilla dan relawan yang tergabung di dalamnya adalah pelanggaran nyata terhadap hukum internasional,” tulis pernyataan resmi Kemlu RI pada Kamis (21/5/2026).

Aksi pamer kekerasan yang dilakukan Ben Gvir justru menjadi bumerang diplomatik yang memicu keretakan hebat di dalam kabinet Israel sendiri. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terpaksa menegur menterinya secara terbuka karena khawatir akan sanksi isolasi global yang kian menguat.

Netanyahu langsung memerintahkan deportasi cepat bagi seluruh aktivis guna meredam ledakan amarah diplomatik dari negara-negara Barat. Kehadiran cucu Nelson Mandela, Mandla Mandela, dalam daftar tahanan semakin menyudutkan posisi Israel di panggung hukum humaniter internasional. ***

Baca Juga :  Blokade Hormuz dan Serangan Nuklir: Israel Kepung Arsitektur Ancaman Iran