nusantaramerdeka.id — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bergerak cepat menetapkan paket strategi kebijakan adaptif untuk mitigasi risiko ekonomi nasional akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Langkah ini diambil menyusul lonjakan harga minyak mentah Brent yang menembus angka USD 100 per barel akibat serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang mengancam stabilitas pasokan energi global.
Airlangga menegaskan bahwa penutupan Selat Hormuz menjadi ancaman paling nyata bagi ketahanan energi Indonesia karena 20 persen kebutuhan minyak nasional berkontrak dengan Arab Saudi.
“Kita belum tahu perang ini lama atau pendek. Yang mengkhawatirkan bagi kita tentu penutupan Selat Hormuz, di mana 20 persen minyak global lewat di sana,” ujar Airlangga dalam forum diskusi ekonomi di Jakarta Selatan, Senin (2/3/2026).
Implementasi WFH Adaptif dan Efisiensi Energi
Sebagai langkah konkret, pemerintah resmi menetapkan kebijakan Work From Home (WFH) secara adaptif bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) serta imbauan bagi sektor swasta yang akan berlaku efektif setelah libur Lebaran 2026.
Kebijakan ini dirancang untuk menekan konsumsi BBM nasional di tengah ancaman defisit APBN yang diprediksi bisa mencapai 4,06 persen jika harga minyak menyentuh angka USD 115 per barel.
Airlangga mengonfirmasi bahwa skema kerja fleksibel ini hanya akan berlaku satu hari dalam sepekan namun dilakukan secara disiplin untuk menjaga efisiensi anggaran negara.
“Perlu efisiensi daripada waktu kerja di mana akan dibuka fleksibilitas untuk work from home. Pokoknya sudah ditetapkan pekan ini,” tegas Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Jumat (27/3/2026).
Akselerasi Program B50 dan Ketahanan Domestik
Selain pengaturan pola kerja, pemerintah juga memperkuat kajian mandatori B50 sebagai upaya diversifikasi energi guna mengurangi ketergantungan pada impor solar dari wilayah konflik.
Program pencampuran 50 persen biodiesel ini diproyeksikan mampu menghemat devisa negara secara signifikan, berkaca pada keberhasilan B40 yang telah menghemat emisi hingga 42 juta ton CO2.
Airlangga menambahkan bahwa uji jalan B50 telah dimulai sejak Desember 2025 dengan melibatkan kendaraan komersial hingga alat mesin pertanian untuk memastikan kesiapan teknis sebelum implementasi penuh.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia turut memastikan bahwa saat ini stok BBM nasional masih berada pada level aman untuk mencukupi kebutuhan rakyat Indonesia.
“Masih cukup 20 hari,” kata Bahlil singkat saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (2/3/2026), menegaskan ketahanan energi nasional dalam menghadapi gejolak global.
Pemerintah terus memantau situasi secara dinamis dan siap meluncurkan langkah lanjutan jika perang di Timur Tengah berlangsung dalam jangka panjang.***