nusantaramerdeka.id — Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menginstruksikan seluruh jajaran wali kota untuk menggelar operasi pembersihan ikan sapu-sapu secara masif di wilayah Jakarta pada Minggu, 12 April 2026.
Langkah tegas ini diambil merespons ancaman serius spesies invasif asal Amazon tersebut terhadap keamanan infrastruktur pengendali banjir dan kelestarian ekosistem sungai di Ibu Kota.
“Saya meminta bukan hanya di Jakarta Pusat, di semua wilayah yang ikan sapu-sapunya banyak untuk kita adakan operasi pembersihan,” tegas Pramono Anung saat memberikan instruksi resmi pada Minggu (12/4/2026).
Keputusan ini menjadi sinyal perang terhadap dominasi spesies asing yang telah menjajah perairan lokal sejak era 1970-an.
Ancaman Nyata pada Infrastruktur Jakarta
Keberadaan ikan dengan nama ilmiah Pterygoplichthys pardalis ini bukan sekadar gangguan estetika, melainkan ancaman fisik bagi keselamatan warga Jakarta.
Spesies ini memiliki kebiasaan menggali lubang sarang horizontal sedalam lebih dari satu meter pada dinding sungai yang mengakibatkan tanah melunak seperti spons.
“Keberadaan ikan itu dapat merusak tanggul lingkungan dan berdampak pada kelestarian ekosistem perairan lokal,” tambah Pramono dalam pernyataannya.
Struktur tanah yang berlubang-lubang akibat aktivitas ribuan ikan ini meningkatkan risiko jebolnya tanggul saat debit air sungai meningkat drastis.
Krisis Ekologi di Jantung Kota
Data terbaru menunjukkan lonjakan populasi ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung mencapai 24 kali lipat dalam kurun waktu hanya 15 tahun.
Spesies ini kini mendominasi lebih dari 80 persen total biomassa ikan di perairan Jakarta yang telah tercemar logam berat.
Dominasi ekstrem ini menciptakan kondisi monokultur yang mematikan bagi kekayaan hayati asli Indonesia seperti ikan wader dan gabus.
Ikan lokal kini terdesak akibat persaingan ruang hidup dan sumber makanan yang dimonopoli oleh ikan berlapis baja tersebut.
Risiko Kesehatan di Balik Operasi Eradikasi
Meskipun pembersihan dilakukan secara besar-besaran, masyarakat diperingatkan keras untuk tidak mengonsumsi hasil tangkapan dari perairan yang tercemar.
Ikan sapu-sapu merupakan bioindikator pencemaran ekstrem yang mampu menyimpan logam berat seperti merkuri dan timbal dalam jaringan dagingnya.
Proses metabolisme mereka tidak membuang polutan, melainkan menumpuknya sehingga sangat berbahaya jika masuk ke rantai makanan manusia.
Operasi pembersihan ini difokuskan pada restorasi ekosistem dan pengamanan tanggul, bukan untuk pemanfaatan konsumsi warga. ***