nusantaramerdeka.id — Konsulat Jenderal Israel di Istanbul diserang pada 7 April 2026, menambah panas konflik Israel–Turki yang sudah memburuk sejak perang Gaza 2023. Insiden ini terjadi di tengah Perang Iran 2026, memperlihatkan eskalasi regional yang semakin berbahaya.
Hubungan diplomatik kedua negara telah putus sejak November 2024. Presiden Erdogan menegaskan Turki tidak lagi memiliki hubungan resmi dengan Israel. Sejak itu, perang narasi dan aksi saling tuding terus berlangsung.
Kronologi Eskalasi
Mantan PM Israel Naftali Bennett pada 17 Februari 2026 menyebut: “Turki adalah Iran baru.” Ia menuduh Ankara berupaya membalikkan Arab Saudi melawan Israel. Erdogan membalas dengan mengecam serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari 2026.
Serangan konsulat di Istanbul menewaskan satu penyerang dan melukai dua polisi. Sehari kemudian, otoritas Turki menangkap 198 tersangka ISIS dalam operasi di 34 provinsi. Netanyahu lalu menyerang Erdogan di media sosial, menuduhnya menampung rezim teror Iran.
Perang Narasi dan Gugatan Hukum
Menlu Turki Hakan Fidan pada 13 April 2026 menyatakan: “Setelah Iran, Israel tidak bisa hidup tanpa musuh.” Dua hari sebelumnya, pengadilan Istanbul mendakwa Netanyahu dan 34 pejabat Israel atas tuduhan genosida.
Di Afrika, Turki mempercepat pengerahan militer ke Somalia, sementara Israel menjalin hubungan diplomatik dengan Somaliland. Rivalitas ini memperluas konflik ke Tanduk Afrika.
Fakta Baru dan Dampak
Jonathan Pollard, mantan analis intelijen AS, memperingatkan: “Badai akan datang.” Ia menilai perang dengan Turki tidak akan semudah dengan Iran. Data SIPRI 2025 menunjukkan Turki memiliki 355 ribu personel aktif, lebih dari dua kali lipat Israel.
Hubungan diplomatik praktis nol, tanpa jalur komunikasi resmi. Tekanan dari think tank pro-Israel di AS bahkan mendorong wacana pengeluaran Turki dari NATO.
Fakta unik: kasus ini diperburuk oleh berita palsu yang viral di Turki tentang ancaman militer Israel. Meski segera dibantah, penyebarannya menunjukkan rapuhnya kepercayaan publik.
Konflik Israel–Turki kini bukan sekadar perang kata-kata, melainkan persaingan geopolitik nyata di Suriah, Afrika, dan NATO. ***