Dua Pejabat Senior Mossad Dicopot usai Rencana Jatuhkan Iran Gagal

Kepala Mossad

NusantaraMerdeka.id – Kepala Mossad Roman Gofman dilaporkan mencopot dua pejabat senior badan intelijen Israel tersebut setelah rencana untuk menggulingkan rezim Iran tidak terlaksana sesuai rencana. Keduanya disebut terlibat dalam penyusunan rencana operasional yang dirancang untuk mendorong perubahan rezim di Iran.

Laporan tersebut muncul pada Kamis (6/8/2026) dan dikutip sejumlah media pada Jumat (7/8/2026). Dua pejabat yang dicopot masing-masing merupakan kepala Direktorat Intelijen Mossad dan kepala divisi Iran, tetapi nama keduanya tidak dipublikasikan.

Dua Pejabat Mossad Disebut Arsitek Rencana Iran

Menurut laporan Channel 12 yang dikutip The Times of Israel, kedua pejabat tersebut termasuk arsitek rencana tertulis untuk menjatuhkan Republik Islam Iran. Rencana itu melibatkan kelompok minoritas Iran dan dirancang untuk mendorong kembali gerakan protes massal guna menggulingkan pemerintahan.

Rencana tersebut disebut telah dibahas dalam konteks upaya Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu meyakinkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk berperang melawan Iran pada Februari 2026. Namun, laporan media tidak menunjukkan bahwa rencana perubahan rezim itu berhasil dijalankan sesuai rancangan.

Baca Juga :  Trump Ganti Nama Danau Ontario Jadi “Danau Amerika”, Kanada Menolak

Menurut laporan lain yang mengutip N12, Gofman menilai pihak yang bertanggung jawab atas penyusunan rencana perlu dimintai pertanggungjawaban setelah rencana tersebut dipresentasikan kepada Trump tetapi tidak terlaksana di lapangan.

Rencana Libatkan Pejuang Kurdi

Salah satu bagian penting dari rencana tersebut adalah penggunaan kelompok Kurdi untuk membantu mendorong perubahan rezim di Iran. Serangan Israel terhadap posisi Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC di sepanjang perbatasan Iran-Irak disebut dirancang untuk membuka jalan bagi pasukan Kurdi memasuki wilayah Iran.

Menurut laporan The New York Times yang dikutip The Times of Israel, para pejuang Kurdi kemudian direncanakan bergerak menuju sejumlah kota Kurdi di barat laut Iran. Strategi itu diharapkan dapat berkembang menjadi gerakan yang lebih luas dan memperkuat aksi protes terhadap pemerintah Iran.

Laporan tersebut juga menyebut rencana Israel dan Amerika Serikat mencakup dukungan udara untuk pasukan Kurdi yang masuk ke Iran. Namun, rencana tersebut pada akhirnya tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.

Pencopotan Disebut Bagian dari Reorganisasi Mossad

Meski dikaitkan dengan kegagalan rencana terhadap Iran, pencopotan dua pejabat itu disebut juga menjadi bagian dari reorganisasi lebih luas di tubuh Mossad. Sumber keamanan yang dikutip media Israel menyebut hubungan kedua pejabat tersebut dengan Gofman memang tidak berjalan baik sejak awal.

Baca Juga :  Iran Tolak Mentah-Mentah Proposal 15 Poin AS dalam Perang Iran

Keduanya disebut meninggalkan jabatan berdasarkan kesepakatan bersama. Mereka juga masih berpeluang tetap bekerja di Mossad dengan menempati posisi lain.

Dengan demikian, laporan mengenai perubahan posisi dua pejabat senior Mossad tersebut tidak serta-merta berarti keduanya keluar dari badan intelijen Israel. Perubahan itu disebut berkaitan dengan evaluasi atas rencana perubahan rezim Iran sekaligus reorganisasi internal yang lebih luas.

Hingga laporan tersebut diterbitkan, identitas dua pejabat yang dicopot belum diumumkan ke publik. Keduanya hanya disebut sebagai kepala Direktorat Intelijen Mossad dan kepala divisi Iran.