nusantaramerdeka.id — Sebanyak 197 siswa dari 12 sekolah di Kecamatan Bubutan, Surabaya, mengalami keracunan massal usai mengonsumsi menu daging krengsengan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tembok Dukuh pada Senin, 11 Mei 2026.
Insiden tragis ini bermula saat para siswa menyantap jatah Makan Bergizi Gratis (MBG) sekitar pukul 09.00 WIB dan mendadak mengeluhkan pusing, mual, hingga muntah-muntah hebat beberapa jam kemudian.
Negara harus hadir dengan tindakan konkret, bukan sekadar kata maaf, mengingat anggaran program strategis nasional ini melonjak drastis hingga Rp 335 triliun pada tahun 2026.
Korban yang terdiri dari siswa TK, SD, hingga SMP dilarikan secara massal ke Puskesmas Tembok Dukuh dan RSIA IBI Surabaya untuk mendapatkan penanganan darurat.
Gibran Pratama, siswa kelas 4 SD Raden Wijaya, memberikan kesaksian bahwa daging yang ia santap terasa pahit seperti obat meskipun aroma makanannya terlihat normal.
"Saya merasakan sakit perut usai menyantap daging krengsengan. Rasanya seperti obat dan pahit, makanya tidak saya habiskan," ujar Gibran pada Senin, 11 Mei 2026.
Kepala Puskesmas Tembok Dukuh, drg. Tyas Pranadani, mengonfirmasi bahwa dugaan kuat mengarah pada menu daging yang baru pertama kali disajikan oleh pihak SPPG.
Badan Gizi Nasional (BGN) langsung mengambil langkah menutup sementara operasional SPPG Tembok Dukuh guna melakukan investigasi mendalam terhadap rantai pasok bahan baku.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menegaskan bahwa mekanisme sanksi harus ditegakkan jika terbukti ada kelalaian fatal dalam pengolahan makanan tersebut.
"Kewenangan pemberian sanksi tentu dilakukan secara kolektif tapi terutamanya BGN yang menerapkan sanksi untuk SPPG yang mengalami insiden," tegas Emil di Kantor DPRD Jatim, Senin, 11 Mei 2026.
Data nasional menunjukkan bahwa masalah higienitas masih menjadi rapor merah, di mana 1.789 SPPG di seluruh Indonesia masih berstatus dalam sanksi per April 2026.
Ketua DPRD Surabaya, Syaifuddin Zuhri, mendesak evaluasi total terhadap sistem pengawasan distribusi agar kasus serupa tidak terus berulang dan menciptakan trauma bagi rakyat.
Hingga pukul 17.00 WIB, tercatat tiga siswa masih menjalani rawat inap, sementara sampel makanan sedang diuji intensif di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat Surabaya. ***