Pemerintah Wajibkan Baca Buku di Sekolah Demi Kedaulatan Intelektual

Walikota dan Wakil Walikota Tasikmalaya

NusantaraMerdeka.id — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, mewajibkan siswa di seluruh Indonesia membaca buku non-teks selama 15 menit setiap hari mulai tahun ajaran mendatang. Langkah tegas ini diambil untuk memicu kebangkitan literasi nasional dan memastikan generasi muda memiliki pondasi berpikir yang kuat serta bernyali.

Kebijakan ini merupakan respon langsung terhadap rendahnya skor PISA Indonesia yang selama ini jalan di tempat. Pemerintah tidak ingin anak bangsa hanya menjadi konsumen informasi tanpa daya kritis yang tajam di era digital.

Abdul Mu’ti menegaskan bahwa literasi adalah senjata utama untuk menjaga kedaulatan bangsa di masa depan. Beliau menyampaikan hal ini saat memberikan paparan di Kantor Kemendikdasmen, Jakarta, pada 23 Oktober 2024.

“Kita ingin anak-anak kita mencintai ilmu pengetahuan melalui buku, bukan sekadar terpaku pada layar gadget tanpa substansi,” ujar Mu’ti dengan nada bicara yang lugas dan tegas.

Pemerintah akan mendistribusikan jutaan judul buku berkualitas ke pelosok negeri guna menjamin akses yang merata. Guru-guru diwajibkan menjadi teladan dalam gerakan ini tanpa ada alasan birokrasi yang menghambat.

Baca Juga :  OTT KPK di BPN Bogor, 17 Orang Diamankan Terkait Dugaan Suap HGB

Setiap sekolah harus melaporkan progres minat baca siswa secara berkala sebagai bentuk akuntabilitas publik. Keberhasilan program ini akan menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia dalam kompetisi global yang semakin keras.

Mentalitas pembelajar adalah harga mati untuk kemajuan bangsa. Tanpa kemampuan membaca yang mumpuni, bangsa ini akan mudah didikte oleh kepentingan asing.

Kementerian juga menggandeng penulis lokal untuk memperkaya koleksi perpustakaan dengan konten yang membakar semangat nasionalisme. Inisiatif ini adalah bukti nyata keberpihakan pemerintah pada masa depan intelektual rakyat.

Reformasi pendidikan ini harus berjalan tanpa basa-basi demi mencapai target Indonesia Emas. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai kata-kata dan gagasan dari dalam kepalanya sendiri. ***