nusantaramerdeka.id — Personel gabungan TNI-Polri mengawal ketat kepulangan 401 pengungsi ke Desa Sibenpopo, Halmahera Tengah, pada Senin, 6 April 2026, guna memastikan stabilitas keamanan pascabentrok berdarah yang menelan dua korban jiwa.
Konflik antarkampung ini meletus pada Jumat, 3 April 2026, melibatkan warga Desa Banemo dan Desa Sibenpopo di Kecamatan Patani Barat. Amuk massa dipicu kemarahan atas dugaan pembunuhan seorang petani lanjut usia di kawasan hutan.
Ali Abas (65) ditemukan tewas mengenaskan di kebunnya pada Kamis, 2 April 2026, yang kemudian memantik aksi balas dendam esok harinya. Massa bersenjata tajam menyerang pemukiman hingga menyebabkan pembakaran sejumlah rumah warga dan fasilitas publik.
Wakapolda Maluku Utara Brigjen Pol Stephen M. Napiun menegaskan bahwa aparat tidak akan memberikan ruang bagi pelaku kriminal yang merusak persatuan warga. Kepolisian berkomitmen penuh mengejar dalang utama pembunuhan yang menjadi pemantik kekerasan ini.
“Korban sampai saat ini ada 2 yang meninggal dunia dan mudah-mudahan tidak bertambah lagi. Peristiwa ini adalah murni tindak pidana atau perkelahian antarkampung,” tegas Stephen M. Napiun, Wakapolda Maluku Utara, pada Minggu, 5 April 2026.
Negara Hadir Pulihkan Ketertiban di Bumi Fagogoru
Kapolda Maluku Utara Irjen Pol Waris Agono langsung mengerahkan 259 personel gabungan untuk mengamankan lokasi kejadian sejak Jumat sore. Pasukan Brimob dan Samapta Polda disiagakan guna mencegah eskalasi konflik meluas ke wilayah tetangga di Patani.
Amukan massa menyebabkan sejumlah rumah warga dan satu pos polisi di Desa Sibenpopo hangus terbakar akibat serangan balik. Tindakan anarkis ini mendapat kecaman keras karena mencederai ketenangan masyarakat.
“Masyarakat saya imbau agar tetap menahan diri dan tidak mudah terprovokasi. Tahan jari-jari kita, jangan ikut menyebarkan hal-hal yang bisa memancing emosi,” imbau Irjen Pol Waris Agono, Kapolda Maluku Utara, pada Jumat, 3 April 2026.
Gotong Royong Rebut Kembali Kedamaian Maluku Utara
Bupati Halmahera Tengah Ikram Malan Sangadji menginisiasi kerja bakti massal bersama TNI-Polri untuk membangun kembali rumah warga yang rusak. Seluruh warga diminta menyerahkan senjata tajam guna menjamin keamanan bersama secara permanen di wilayah tersebut.
Pemerintah daerah menjamin keamanan ratusan pengungsi yang sempat berlindung di Desa Yeke selama tiga hari terakhir masa krisis. Kehadiran fisik para pejabat Forkopimda di lokasi konflik menjadi bukti keseriusan negara dalam melindungi seluruh tumpah darah rakyatnya.
Wakil Gubernur Sarbin Sehe mengajak masyarakat untuk saling memaafkan demi menyongsong hari raya Idul Fitri dengan hati yang bersih. Perdamaian abadi menjadi target utama pemerintah melalui dialog intensif antara tokoh adat dari kedua desa yang bertikai.
Penegakan hukum tetap berjalan tanpa kompromi terhadap siapa pun yang terbukti melakukan pembunuhan maupun pembakaran properti milik warga. Stabilitas nasional di Maluku Utara menjadi harga mati yang tidak boleh diganggu oleh provokasi murahan yang memecah belah. ***