Megathrust M 7,6 Guncang Bitung, Satu Warga Manado Tewas

Gempa Bitung 2 April 2026

nusantaramerdeka.id — Gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 7,6 mengguncang perairan Bitung, Sulawesi Utara, hingga menyebabkan satu warga Manado tewas tertimpa reruntuhan gedung, Kamis (2/4/2026).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi episenter gempa berada di 129 km Tenggara Bitung dengan kedalaman 62 km yang sempat memicu peringatan dini tsunami di wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara.

Runtuhnya Gedung KONI Sario dan Evakuasi Dramatis

Guncangan hebat skala V-VI MMI merobohkan total Gedung KONI Sario Manado dan menimpa warga yang berada di sekitar lokasi kejadian saat evakuasi mandiri sedang berlangsung.

Korban tewas diidentifikasi bernama Deyce Lahia (70), sementara satu korban lainnya mengalami patah kaki akibat tertimpa material bangunan yang rontok sesaat setelah gempa utama terjadi pukul 05:48 WIB.

Runtuhan dari gedung tersebut menimpa warga masyarakat yang berada di sekitar TKP, ujar Kapolresta Manado, Kombes Irham Halid, dalam keterangannya di Manado, Kamis (2/4/2026).

Kekuatan gempa ini diklasifikasikan sebagai tipe megathrust yang bersumber dari zona subduksi Laut Maluku, salah satu kawasan dengan aktivitas seismik paling kompleks dan berbahaya di Indonesia.

Baca Juga :  Macet Parah di Bali, Antrean Mudik Gilimanuk Tembus 37 Kilometer

Ancaman Tsunami dan Rentetan Gempa Susulan

Sensor BMKG mendeteksi kenaikan permukaan laut setinggi 0,75 meter di Minahasa Utara serta 0,20 meter di Bitung sebelum peringatan dini tsunami akhirnya dicabut beberapa jam kemudian.

Hingga laporan ini disusun, tercatat sebanyak 23 kali gempa susulan dengan kekuatan terbesar Magnitudo 5,8 yang terus menggetarkan wilayah Sulawesi Utara dan sekitarnya.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi kerusakan struktur bangunan akibat rentetan aktivitas tektonik yang masih berlangsung dinamis.

Hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan dengan magnitudo terbesar yaitu 5,5, tegas Teuku Faisal Fathani, Kamis (2/4/2026).

Tim Basarnas dan BPBD saat ini masih melakukan penyisiran di titik-titik kerusakan guna memastikan tidak ada warga yang terjebak di bawah puing bangunan rumah maupun fasilitas publik.(*)