nusantaramerdeka.id — Militer Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke wilayah Yaman pada 10 September 2025 yang menewaskan 35 orang dan melukai 131 lainnya di tengah eskalasi konflik regional yang kian membara.
Serangan mematikan ini menyasar fasilitas medis dan kompleks pemerintahan di Sana’a serta Al-Jawf. Operasi tersebut merupakan respons langsung atas serangan drone Houthi yang sebelumnya menghantam Bandara Ramon di Israel.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa militer tidak akan ragu menghancurkan siapa pun yang berani mengusik kedaulatan negaranya melalui jalur udara maupun intelijen.
“Siapa pun yang menyerang kami, kami akan menghajar mereka. Serangan ini tidak melemahkan tangan kami, kami menyerang fasilitas teror mereka,” tegas Netanyahu melalui pernyataan resminya pada September 2025.
Genosida Gaza dan Eskalasi Berdarah di Lebanon
Kekejaman di Jalur Gaza terus meningkat dengan jumlah korban tewas mencapai angka mengerikan yakni 71.400 jiwa hingga Januari 2026, termasuk di antaranya lebih dari 20.000 anak-anak yang menjadi korban bombardir.
Situasi kemanusiaan memburuk drastis akibat pengepungan total yang memicu krisis pangan dan medis akut. Al Jazeera melaporkan setidaknya empat bayi meninggal dunia akibat cuaca dingin ekstrem yang melanda kamp pengungsian.
Di perbatasan utara, Lebanon turut membara dengan catatan 1.268 orang tewas sejak Maret 2026 akibat serangan intensif Israel. Korban sipil terus berjatuhan di tengah operasi militer yang diklaim untuk melumpuhkan kekuatan pro-Iran.
Dampak Global dan Penutupan Selat Hormuz
Eskalasi ini memicu guncangan ekonomi global dengan kenaikan harga minyak Brent sebesar 11,66 persen dalam satu sesi perdagangan akibat kekhawatiran terganggunya pasokan energi dunia dari kawasan Teluk.
Parlemen Iran telah menyetujui mosi penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur vital bagi 20 persen distribusi minyak dan gas dunia. Langkah ini mengancam stabilitas ekonomi negara-negara maju dan berkembang secara serentak.
Pihak Houthi di Yaman melalui juru bicara militernya, Yahya Saree, menyatakan telah memberikan perlawanan sengit menggunakan rudal darat-ke-udara untuk menghalau formasi tempur jet Israel yang memasuki wilayah kedaulatan mereka.
“Pertahanan udara kami berhasil meluncurkan sejumlah rudal saat menghadapi agresi Zionis, membuat beberapa formasi tempur terpaksa mundur,” ujar Yahya Saree dalam pernyataan resminya pada September 2025. ***